Kajian komparatif mengenai motif turunnya tokoh perempuan ke dunia bawah—Inanna, Persefone, Xquic, dan Psyche—etiologi musiman, pola ritual kematian dan kelahiran kembali, serta keterkaitannya dengan EToC, berdasarkan teks-teks primer.
Kajian berorientasi penelitian mengenai siklus Djang’kawu dan Para Saudari Wawilak dari Yolngu—asal-usul hukum, bahasa, dan upacara—yang dipetakan ke dalam EToC.
Uraian berorientasi penelitian mengenai kompleks penciptaan Wanjina Wunggurr (Worrorra–Ngarinyin–Wunambal), yang memperlihatkan bagaimana pengecatan ulang gambar cadas menopang tatanan musiman dan Hukum
Paparan yang mengutamakan penelitian mengenai mitos Tiwi tentang Purukapali dan ritus pemakaman Pukumani, dengan kutipan sumber utama, atestasi varian, serta sintesis dengan Eve Theory of Consciousness.
Tinjauan netral yang kaya sumber mengenai mitos tentang musim dingin panjang, banjir dahsyat, dan air lelehan dalam jumlah besar—menilai apakah ada di antaranya yang melestarikan ingatan tentang Zaman Es.
Bagaimana kosmogoni Hmong—Nkauj Ntsuab dan Sis Nab dalam Qhuab Ke—dapat dipetakan ke Teori Kesadaran Hawa: kemunculan ‘aku’ yang berawal dari perempuan, kultus ular, dan kelahiran kembali dalam ritual.
Pembacaan cermat atas siklus penciptaan/‘asal-usul kematian’ dalam tradisi Efé (Pigmi Ituri)—Baatsi dan tabu terhadap Tahu, lengan Masupa/Tore yang ditarik kembali—yang dipetakan ke Kitab Kejadian dan EToC.
Uraian bersumber primer tentang Baiame sebagai pemberi hukum langit dan Daramulan dalam bora/burbung Gamilaraay/Wiradjuri, disertai kutipan, tabel, dan analisis yang selaras dengan EToC.
Pembacaan mendalam atas mitos-mitos asal-usul manusia Algonquin/Anishinaabe—Manusia Asal, Penyelam Bumi, dan Banjir—yang dipetakan pada klaim EToC bahwa kisah-kisah penciptaan mengodekan kelahiran diri.
Tinjauan mitos banjir Afrika berdasarkan wilayah, dengan sumber beranotasi, analisis motif, serta argumen difusi/seleksi bagi para ahli mitologi komparatif.
Kajian komprehensif mengenai motif mitis tentang Langit dan Bumi yang dipenggal atau dipisahkan, sebagaimana tampak dalam epos Hurri-Hitit kuno dan berbagai mitos penciptaan dunia lainnya.
Bagaimana mainan maut milik dewa yang masih kanak-kanak menjadi simbol filosofis bagi perwujudan, materi, dan kedirian—dari kaum Neoplatonis hingga para klasikawan masa kini.
Tabel dan sitasi yang menunjukkan bagaimana para sarjana menempatkan Lucifer berdampingan dengan Loki, Prometheus, dan dewa-dewa pemberontak lain yang terbelenggu.
Kajian mengenai leksem-leksem unik yang diciptakan oleh berbagai kebudayaan untuk menyebut Banjir Besar—dan, yang lebih jarang lagi, zaman sebelumnya—yang membentang dari Sumeria hingga Māori, dari bahasa Ibrani hingga Quechua.
Mengapa begitu banyak kebudayaan mengisahkan banjir besar, bagaimana rumpun-rumpun mitos banjir saling berhubungan, dan mengapa bencana banjir itu mungkin menyimpan ingatan tentang kebangkitan umat manusia.
Kultus Ular Kesadaran memadukan ilmu saraf, teori evolusi, dan simbolisme mistik Barat ke dalam sebuah hipotesis mengenai asal-usul kesadaran diri manusia.