Awalnya diterbitkan oleh Vectors of Mind.


Gambar dari Mystery Factors Revisited

Dengan mengambil jarak dari teori-teori besar, tulisan ini meninjau kembali faktor-faktor leksikal misterius. Berdasarkan muatan kata, dapatkah Anda menggambarkan prinsip umum yang menyatukan suatu faktor? Latihan ini menyentuh hakikat model kepribadian yang pada akhirnya bersifat kualitatif. Terlepas dari metode statistik yang digunakan untuk menghasilkan muatan kata, suatu model pada akhirnya harus dikomunikasikan menggunakan kata-kata, bukan angka. Deskripsi-deskripsi ini kemudian digunakan untuk menghasilkan inventori (misalnya, BFI) yang mendekati setiap konstruk.

Data untuk faktor-faktor yang dimaksud berasal dari dua sumber. Satu faktor berasal dari vektor kata, dan yang lainnya dari pendekatan survei tradisional. Kedua proses tersebut dijelaskan di sini. Jika Anda ingin mencoba menamai faktor-faktor pada plot tanpa label, lihat tulisan ini sebelum membaca bagian di bawah.

Faktor Misteri 1#

Kata-kata teratas: menuntut ketelitian, ketat, tegas, keras, kokoh vs. lemah lembut, longgar, plin-plan, mudah percaya, naif

Para pemberi komentar menggambarkannya sebagai: conscientiousness, ketegasan, kerajinan, dan Attended Action

Kerja bagus, tim! Ini pada dasarnya sudah mencakup faktornya. Faktor ini diturunkan sebagai komponen ketiga yang tidak diputar dari data vektor kata. Dahulu saya menyebutnya Order untuk membedakannya dari Conscientiousness dalam Big Five. Keduanya serupa, tetapi faktor ini sedikit lebih tajam (misalnya, menuntut ketelitian, pendendam). Order berkaitan dengan pencapaian tujuan Anda sendiri, apa pun rintangannya. Big Five mengambil varians dari PC1 (the PFP) dan mencampurkannya dengan Order untuk menghasilkan Conscientiousness. Oleh karena itu, unforgiving sangat terkait dengan Order, tetapi netral terhadap Conscientiousness.

Menurut saya, konstruk yang menggabungkan kemampuan untuk mencapai tujuan sendiri dengan keinginan untuk mencapai tujuan masyarakat justru mengaburkan persoalan. Saya pikir riset I/O, misalnya, akan lebih baik jika menggunakan Order daripada Conscientiousness ataupun grit. Korelat yang menjadi perhatian (seperti promosi) tentunya lebih berkaitan langsung dengan Order. Saya belum pernah bertemu seseorang di puncak yang semata-mata merupakan pemain tim. Selalu ada sisi personal.

Faktor Misteri 2#

Kata-kata teratas: tidak imajinatif, tidak berbudaya, bermoral, berempati, berprinsip vs. licik, lihai, culas, kreatif, cerdas

Para pemberi komentar menggambarkannya sebagai: openness negatif, kerajinan, dan Trust of Word.

Yang satu ini lebih rumit karena sebenarnya merupakan komponen keenam yang tidak diputar dari data yang digunakan dalam makalah klasik yang pada awalnya digunakan untuk mendefinisikan Big Five. INILAH YANG MEREKA SEMBUNYIKAN DARI ANDA! Inilah yang tidak lolos seleksi. Menarik bahwa faktor kelima dan keenam dalam data tersebut sama-sama berkaitan dengan keterbukaan terhadap pengalaman. Tentu saja, secara statistik mungkin ada alasan untuk menghentikan model pada lima faktor. Namun, secara kualitatif, faktor terakhir itu terbagi ke dalam dua faktor, dan hanya separuh sinyal yang disertakan. Ini lebih merupakan keanehan daripada hal lain. Tidak tahu apakah hal itu berlaku pada dataset lain.

Sebanyak 435 kata difaktorkan menggunakan data dari vektor kata dan survei. Faktor ketiga yang tidak diputar dipilih dari vektor kata (NLP), sedangkan faktor keenam dipilih dari survei. Agar kata-kata tersebut dapat ditampilkan, hanya 150/435 yang ditampilkan. Kata-kata ini dipilih secara acak sehingga menghasilkan subset yang berbeda dari tulisan sebelumnya.
Sebanyak 435 kata difaktorkan menggunakan data dari vektor kata dan survei. Faktor ketiga yang tidak diputar dipilih dari vektor kata (NLP), sedangkan faktor keenam dipilih dari survei. Agar kata-kata tersebut dapat ditampilkan, hanya 150/435 yang ditampilkan. Kata-kata ini dipilih secara acak sehingga menghasilkan subset yang berbeda dari tulisan sebelumnya.

Semoga Anda menikmati latihan kecil ini. Di sekolah pascasarjana, ketika mengembangkan metode untuk mengekstrak muatan kata dari vektor kata, saya sama sekali tidak tahu apakah hasilnya merupakan sinyal atau derau. Pada awalnya, hasilnya lebih sering berupa derau, dan saya menghabiskan berjam-jam menafsirkan muatan kata, berharap dapat melihat suatu konstruk psikologis yang menyatukan semuanya. Waktu semakin menipis dan hanya 2–3 faktor NLP pertama yang dapat ditemukan dalam Big Five, itu pun dengan susah payah. Pelepasan emosi saat menemukan Big Two—yang dapat saya pulihkan secara sempurna—merupakan salah satu alasan saya menyukai keduanya. Itu merupakan kisah yang jauh lebih meyakinkan untuk dituangkan ke dalam disertasi daripada sekadar berhasil—kurang lebih—memulihkan separuh Big Five.