TL;DR

  • Dari relief Fuxi–Nüwa di Tiongkok hingga lambang Masonik, pasangan siku-siku + jangka melambangkan penyatuan Bumi (siku-siku) dan Langit (lingkaran).
  • Motif ini muncul kembali dalam konsep Kristen tentang “Tuhan sang Geometer”, tongkat-dan-cincin Babilonia, serta tanda-tanda kuil LDS, yang mengisyaratkan kemungkinan difusi kuno atau arketipe bersama.
  • Entah ditransmisikan melalui Jalur Sutra atau ditemukan berulang kali secara mandiri, alat-alat tersebut mengodekan visi umat manusia tentang tatanan kosmis dan kelurusan moral.

Siku-Siku dan Jangka: Lambang Global Penciptaan dan Tatanan

Kemunculan Siku-Siku dan Jangka dalam Berbagai Kebudayaan

Mitos Penciptaan Tiongkok (Fuxi dan Nüwa)#

Dalam mitologi Tiongkok, pasangan leluhur pertama Fuxi (伏羲) dan Nüwa (女娲) terkenal digambarkan membawa siku-siku tukang kayu dan jangka gambar. Relief-relief artistik dari Dinasti Han (206 SM–220 M) menampilkan Fuxi dan Nüwa sebagai sosok berkepala manusia dengan tubuh ular yang saling berkelindan; Fuxi biasanya memegang siku-siku dan Nüwa sepasang jangka.

Alat-alat ini melambangkan peran kosmis mereka: Fuxi “mengatur bumi yang bersudut empat” dengan siku-siku, sedangkan Nüwa “mengatur langit yang melingkar” dengan jangka. Dalam pemikiran Tiongkok kuno, Bumi dipahami berbentuk persegi dan Langit berbentuk bundar; karena itu, siku-siku dan jangka masing-masing merepresentasikan penataan Bumi dan Langit.

Memang, frasa guī jǔ (规矩)—secara harfiah berarti “jangka dan siku-siku”—kemudian menjadi idiom yang bermakna standar, aturan, atau norma moral. Teks-teks awal seperti Kitab Tata Upacara (Book of Rites) memuji jangka dan siku-siku karena ketidakberpihakannya dalam menetapkan standar, sementara para filsuf seperti Konfusius dan Mencius menggunakan alat-alat ini secara metaforis untuk menganjurkan perilaku etis.

Singkatnya, dalam kebudayaan Tiongkok, pasangan jangka dan siku-siku mewujudkan penciptaan tatanan dalam alam semesta dan masyarakat—yang dipersonifikasikan oleh Fuxi dan Nüwa sebagai pengatur primordial Langit dan Bumi.

Esoterisme Barat dan Freemasonry#

Dalam tradisi-tradisi Barat, siku-siku dan jangka juga muncul sebagai lambang terpadu yang sarat makna. Yang paling menonjol, Freemasonry mengadopsi Siku-Siku dan Jangka sebagai lambangnya pada awal abad ke-18, meskipun para tukang batu operatif telah lama menggunakan alat-alat kerja tersebut.

Dalam Masonry, lambang ini kaya akan alegori:

  • Siku-siku (∟) mengajarkan kebajikan dan moralitas—agar seseorang “menyikukan” tindakannya berdasarkan sudut perilaku yang benar.
  • Jangka (∧) melambangkan pengendalian diri dan spiritualitas, yakni “membatasi” nafsu dalam batas-batas yang semestinya.

Bersama-sama, keduanya menandakan keharmonisan bumi dan langit, materi dan roh, dalam kehidupan seorang Mason sejati. Penafsiran ini sangat mirip dengan pemahaman Tiongkok mengenai jangka dan siku-siku sebagai instrumen kosmis yin-yang bagi tatanan.

Freemason juga menyebut Tuhan sebagai “Arsitek Agung Alam Semesta”, yang kerap digambarkan sebagai pembangun ulung yang menggunakan jangka. Sebuah iluminasi Eropa abad ke-13 yang terkenal menggambarkan Tuhan sebagai Arsitek Penciptaan, membungkuk dari surga dengan jangka untuk menggambar lingkaran kosmis.

Dalam seni dan sastra Kristen abad pertengahan, geometri dipandang sebagai ilmu ilahi; jangka di tangan Tuhan melambangkan pembentukan alam semesta-Nya “berdasarkan prinsip-prinsip geometris dan harmonis” (lihat gambar di bawah). Citra semacam ini menunjukkan jangka (dan, secara perluasan, siku-siku) sebagai metafora bagi kuasa Sang Pencipta untuk menghadirkan tatanan dari kekacauan—tema yang terdapat baik dalam ikonografi Barat maupun Timur.

Gambaran abad pertengahan tentang Tuhan sebagai “Arsitek Agung”, menciptakan alam semesta dengan jangka (French Bible moralisée, abad ke-13). Jangka di sini melambangkan tindakan ilahi Penciptaan, yang menggemakan konsep Langit sebagai lingkaran sempurna.

Di luar Masonry dan seni Kristen, variasi motif siku-siku–jangka muncul dalam konteks esoterisme Barat lainnya. Tulisan-tulisan alkimia dan Hermetik, misalnya, berbicara tentang “mengkuadratkan lingkaran”—menyatukan persegi (yang bersifat duniawi dan material) dengan lingkaran (yang bersifat surgawi dan spiritual)—yang pada dasarnya merupakan penyatuan yang direpresentasikan oleh jangka dan siku-siku ketika digabungkan. Siku-siku dan jangka yang saling berjalin bahkan pernah dibandingkan dengan heksagram (Bintang Daud) sebagai lambang penyatuan prinsip laki-laki dan perempuan atau Langit dan Bumi.

Para sarjana abad ke-19 mencatat bahwa sebuah lambang Mesopotamia kuno, tongkat-dan-cincin, mungkin merupakan analog awal: dewa-dewa seperti Shamash digambarkan menyerahkan cincin (yang dianggap melambangkan lingkaran langit atau alam semesta) dan tongkat atau mistar (untuk mengukur garis lurus di bumi) kepada para raja. Benda-benda ini kemungkinan merupakan tali ukur dan tongkat ukur—alat untuk “memetakan sebuah kerajaan”—yang menunjukkan tatanan langit dan bumi yang ditetapkan secara ilahi.

Dengan demikian, bahkan di Buaian Peradaban, kita melihat konsep tatanan kosmis yang dianugerahkan melalui sepasang instrumen ukur. Dari Babilonia hingga katedral-katedral Gotik, gagasan tentang arsitek agung dan geometri sakral meresap, dan kerap dilambangkan oleh jangka dan siku-siku yang sama.

Mormonisme (Tradisi Orang Suci Zaman Akhir)#

Siku-siku dan jangka muncul secara mencolok dalam simbolisme Mormon awal (Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir), sebagian karena pengaruh Freemasonry terhadap Joseph Smith dan rekan-rekannya. Pada dasawarsa 1840-an, Joseph Smith—seorang Freemason yang baru diinisiasi—memperkenalkan tata cara kuil LDS yang memasukkan sejumlah lambang yang berasal dari Masonik.

Hingga kini, pakaian dalam kuil sakral yang dikenakan oleh Orang Suci Zaman Akhir yang telah menerima endowmen memuat tanda-tanda kecil berupa sulaman atau potongan berbentuk siku-siku dan jangka, meskipun gereja memberikan penafsiran keagamaan yang khas terhadapnya. Para pemimpin Mormon awal mengajarkan bahwa lambang-lambang ini, seperti motif-motif kuil lainnya, merepresentasikan perjanjian dan prinsip-prinsip ilahi, bukan pelajaran moral Masonik. Sebagai contoh, sejumlah komentator Orang Suci Zaman Akhir menjelaskan jangka dan siku-siku dalam konteks Penciptaan dan tatanan kosmis, sebagaimana dalam simbolisme Tiongkok atau Masonik.

Patut dicatat bahwa patung Malaikat Moroni yang pertama (yang digunakan di atas Kuil Nauvoo pada 1846 sebagai penunjuk arah angin) secara mencolok menampilkan seperangkat siku-siku dan jangka berlapis emas di atas sang malaikat. Pilihan desain ini menunjukkan betapa alamiahnya para Orang Suci memasukkan lambang tersebut ke dalam teologi visual mereka.

Sejarawan Mormon Richard Bushman mencatat bahwa Joseph Smith meyakini Freemasonry sendiri merupakan sisa yang telah rusak dari ritual imamat purba. Dengan demikian, alih-alih sekadar meminjamnya, Nabi itu memandang siku-siku dan jangka sebagai lambang kuno yang dipulihkan. Para sarjana LDS modern menunjukkan bahwa lambang-lambang serupa terdapat dalam kebudayaan yang “jauh lebih tua daripada Masonry”, dengan menyebut seni Kristen abad pertengahan dan legenda Tiongkok tentang Fuxi dan Nüwa sebagai padanannya.

Dalam pemikiran rakyat LDS, korespondensi ini bukan kebetulan, melainkan bukti bahwa kebenaran Injil (termasuk narasi Penciptaan dan lambang-lambang sakral) telah diberikan kepada umat manusia pada zaman purba dan menggema di seluruh dunia. Sarjana LDS Hugh Nibley, misalnya, menarik perhatian pada selubung pemakaman dari Dinasti Tang di Asia Tengah (Astana, Xinjiang) yang menggambarkan seorang raja memegang siku-siku dan seorang ratu memegang jangka “pada saat pendirian dunia baru dan zaman baru”, dikelilingi lambang-lambang kosmologis seperti matahari, cakram zodiak, dan Biduk.

Ia menganggapnya menggugah bahwa tanda-tanda yang sama pada selubung dan pakaian dalam kuil LDS (siku-siku dan jangka) hadir dalam adegan kuno ini, yang melambangkan “tempat umat manusia dalam kosmos”. Contoh-contoh semacam itu memikat para pemikir LDS awal, yang merasa sedang menyaksikan sisa-sisa kisah Penciptaan atau ritus kuil asli yang tersebar di antara bangsa-bangsa yang berjauhan.

Contoh dan Analogi Lain#

Pasangan siku-siku dan jangka, atau lambang-lambang yang berkaitan erat dengannya, muncul dalam mitologi dan kebudayaan lain—khususnya dalam konteks penciptaan, tatanan kosmis, atau leluhur pertama.

  • Mesir Kuno: Tindakan penciptaan dan pembangunan kuil diperingati melalui upacara “Peregangan Tali”, ketika firaun dan dewi Seshat menggunakan tali (yang analog dengan busur jangka) untuk meletakkan fondasi kuil agar selaras dengan bintang-bintang. Hal ini menekankan bahwa geometri dan astronomi bersifat sakral, serta menggemakan simbolisme jangka dan siku-siku tentang Langit dan Bumi.
  • Mesopotamia: Sebagaimana telah dicatat, para dewa menganugerahkan alat ukur kepada para raja untuk menegakkan keadilan kosmis.
  • Mitologi Yunani: Banyak kebudayaan mempersonifikasikan penataan dunia sebagai pasangan laki-laki–perempuan; misalnya, mitos-mitos penciptaan Yunani tertentu mengisahkan dewi primordial Eurynome yang menari bersama ular besar Ophion, dan persatuan mereka menghasilkan telur dunia. Meskipun siku-siku atau jangka secara harfiah tidak muncul dalam kisah Orfik tersebut, tema pasangan pertama yang berbentuk ular dan terlibat dalam penciptaan sangat mengingatkan pada tubuh Fuxi dan Nüwa yang saling berjalin saat membentuk dunia.
  • Tradisi Gnostik dan Hermetik: Tuhan juga dipandang sebagai perajin ulung; sejumlah sekte bahkan membalikkan kisah Eden untuk memuji ular (lambang kebijaksanaan) karena membuka mata manusia, yang secara konseptual selaras dengan Nüwa sebagai pemberi manfaat yang “menambal langit” dan mengajarkan peradaban.
  • Mesoamerika: Pasangan kreatif berupa ayah-langit dan ibu-bumi atau ular juga muncul—misalnya, bangsa Maya menggambarkan dewa-dewa Pencipta Tepeu dan Gukumatz (ular berbulu) sebagai pihak yang bersama-sama melahirkan kehidupan.

Paralel-paralel global ini menunjukkan bahwa pengukuran kosmos dan penyatuan kekuatan-kekuatan yang saling melengkapi (yang kerap digambarkan sebagai laki-laki/perempuan atau bumi/langit) merupakan motif universal. Siku-siku dan jangka, sebagai instrumen nyata untuk merancang sebuah dunia, secara alamiah sesuai dengan citra arketipal ini. Tidak mengherankan bahwa di mana pun para arsitek kebudayaan atau kosmos dihormati—baik Huangdi yang memetakan arah mata angin di Tiongkok maupun Salomo yang membangun kuil di Yerusalem—alat-alat pengukuran (bandul unting, siku-siku, jangka) memperoleh signifikansi mitis.

Asal-Usul dan Keterkaitan: Bagaimana Lambang Ini Berpindah (atau Muncul)?#

Kemunculan luas motif siku-siku–jangka menimbulkan pertanyaan: Mengapa kedua lambang ini muncul bersama dalam tradisi-tradisi yang begitu berjauhan? Para sarjana dan peneliti telah mengajukan beberapa penjelasan yang mungkin:

Difusi melalui Jalur Perdagangan Kuno (Hipotesis Jalur Sutra)#

Salah satu kemungkinan adalah bahwa motif tersebut menyebar melalui kontak budaya. Jalur Sutra dan jaringan perdagangan lainnya memungkinkan bukan hanya barang, melainkan juga gagasan dan motif seni bergerak melintasi Eurasia. Yang patut dicatat, ikon jangka dan siku-siku ditemukan di Xinjiang (Cina bagian barat), di situs-situs seperti makam Astana di dekat Turpan, sebuah pusat Jalur Sutra.

Sebuah lukisan dari Astana memperlihatkan Fuxi dan Nüwa masing-masing memegang “jangka dan penggaris”, tetapi lukisan itu ditemukan di pinggiran dunia Tionghoa, tempat pengaruh-pengaruh dari Asia Tengah sangat kuat. Hal ini mengisyaratkan bahwa citra tersebut telah menjadi bagian dari repertoar budaya Jalur Sutra. Beberapa sarjana bahkan berspekulasi bahwa ikonografi Fuxi–Nüwa yang saling berjalin dan dilengkapi alat-alat mungkin terilhami oleh model-model asing. Sebagai contoh, para peneliti Tiongkok pada awal abad ke-20 (mis. Wen Yiduo, Chang Renxia) memperdebatkan kemungkinan bahwa Fuxi dan Nüwa berasal dari luar Tiongkok.

Sebuah analisis Tiongkok modern bahkan mengemukakan bahwa citra Fuxi–Nüwa merupakan versi yang disiniskan dari pasangan dewa-ratu Mesir, Osiris dan Isis, yang ditransmisikan melalui perantara Helenistik pada masa Han. Meskipun hal ini tetap bersifat dugaan, memang benar bahwa Tiongkok pada masa Dinasti Han berhubungan dengan dunia Helenistik (melalui Greko-Baktria, Partia, dan sebagainya) tepat ketika citra berpasangan Fuxi dan Nüwa mulai tersebar luas. Kita juga mengetahui bahwa masyarakat Asia Tengah seperti orang Sogdiana membawa seni dan mitos antara Timur dan Barat.

Menariknya, komunitas Kristen awal (Nestorian) di Tiongkok pada masa Dinasti Tang menggunakan motif-motif artistik setempat; Nibley mencatat bahwa makam-makam Astana berada di “wilayah yang pada mulanya merupakan negeri Nestorian”, sehingga membuka kemungkinan bahwa seni kosmologis Kristen berbaur dengan tema-tema Tionghoa.

Ringkasnya, hipotesis Jalur Sutra menyatakan bahwa simbol siku-siku dan jangka (dan mungkin pula narasi yang lebih luas tentang pasangan pertama yang menciptakan dunia) mungkin menyebar ke seluruh Eurasia melalui perdagangan, migrasi, atau kegiatan misioner. Yang mendukung hipotesis ini adalah bukti arkeologis mengenai kehadiran orang-orang Barat di Tiongkok kuno: mumi Cekungan Tarim (sekitar 1800 SM) dengan ciri-ciri Eropa dan tekstil Eropa ditemukan di Xinjiang, yang menunjukkan bahwa masyarakat dari Barat dan Timur telah berbaur pada zaman purbakala yang sangat lampau.

Simbol Leluhur dari Zaman Neolitikum atau Zaman Perunggu#

Penjelasan lain adalah bahwa motif siku-siku dan jangka berasal dari sumber yang sangat kuno—barangkali Revolusi Neolitikum (~10.000 tahun yang lalu), ketika pertanian, arsitektur permanen, dan mitologi kompleks pertama kali muncul. Kisah Adam dan Hawa di Barat (manusia pertama di sebuah taman, yang digoda oleh seekor ular) dan kisah Fuxi dan Nüwa di Tiongkok (manusia pertama yang sebagian tubuhnya berupa ular serta mendirikan peradaban) mungkin diturunkan dari prototipe prasejarah yang sama.

Beberapa peneliti mencatat bahwa mitos tentang sepasang manusia primordial atau firdaus yang hilang sering menyertai peralihan menuju pertanian dalam masyarakat manusia. Dengan demikian, motif “pasangan pertama + ular” mungkin merupakan warisan bersama dari Revolusi Pertanian, yang dipertahankan sebagai pengetahuan lisan ketika kelompok-kelompok manusia menyebar melintasi Eurasia. Jika demikian, simbol-simbol yang berkaitan dengan penciptaan—seperti alat-alat untuk membentuk dunia—mungkin juga memiliki asal-usul purba.

Hal ini memang spekulatif, tetapi orang dapat membayangkan para pembangun kuil awal atau pengamat langit pada zaman Neolitikum menggunakan tali dan sudut siku-siku untuk menata situs-situs sakral, sehingga menciptakan kaitan antara alat-alat tersebut dan mitos penciptaan. Situs megalitik Göbekli Tepe (sekitar 9500 SM) menunjukkan bahwa masyarakat yang bahkan belum mengenal tulisan telah menggunakan geometri dalam penataan lingkaran-lingkaran batu; kemudian, kebudayaan-kebudayaan Neolitikum dari Britania hingga Tiongkok membangun gundukan-gundukan bundar dan desa-desa berbentuk persegi, yang mungkin mencerminkan konsep arketipal “langit bulat, bumi persegi”.

Memang, gagasan Tionghoa tentang langit yang bulat dan bumi yang persegi mungkin berasal dari zaman purbakala yang sangat lampau (gagasan ini telah dirumuskan secara jelas pada masa Negara-Negara Berperang). Jika kosmologi ini telah dikonsepsikan sejak awal, jangka dan siku-siku mungkin telah menjadi singkatan universal untuk kosmos.

Singkatnya, teori ini mengemukakan evolusi konvergen atau ingatan mendalam: simbol-simbol tersebut muncul secara mandiri dalam berbagai peradaban awal semata-mata karena keduanya merupakan unsur dasar arsitektur dan pengamatan, dan karena itu secara alamiah melekat pada kisah-kisah penciptaan. Menurut pandangan ini, kemiripan antara (misalnya) simbol seorang Freemason dan ukiran makam Han bukan disebabkan oleh kontak langsung, melainkan karena keduanya berasal dari perangkat intelektual umat manusia yang paling tua—geometri dan dualitas—yang diterapkan pada misteri penciptaan.

Arketipe Bersama atau Simbolisme Psikologis#

Berkaitan dengan hal di atas, beberapa sarjana mengacu pada arketipe Jungian atau pola-pola universal dalam jiwa manusia. Jangka (lingkaran) dan siku-siku (persegi) melambangkan kesatuan pertentangan—lingkaran bersifat tak terbatas, feminin, dan surgawi; persegi bersifat terbatas, maskulin, dan terestrial. Banyak kebudayaan, tanpa harus saling meminjam, cenderung mengekspresikan tatanan kosmis melalui sepasang pertentangan geometris (persegi dan lingkaran), karena bentuk-bentuk ini sangat intuitif.

Ahli mitologi komparatif Michael Witzel mencatat bahwa mitos-mitos asal-usul di seluruh dunia memiliki kemiripan mencolok yang sulit dijelaskan semata-mata melalui difusi yang baru terjadi. Ia mengusulkan bahwa struktur cerita atau arketipe yang sangat kuno mungkin berperan. Siku-siku dan jangka dapat menjadi salah satu pasangan arketipal semacam itu—sejenis yin dan yang kosmis yang dilambangkan dengan cara masing-masing oleh berbagai masyarakat.

Freemason, misalnya, mengaitkan kekuatan simbol tersebut dengan cerminan hukum alam: langit melengkung di atas (jangka), sedangkan bumi terbentang rata di bawah (siku-siku), dan pertemuan keduanya merupakan tempat manusia (sang pembangun) berdiri. Demikian pula, seni Tionghoa terkadang memperlihatkan Fuxi dan Nüwa saling bertukar perangkat atau masing-masing memegang alat milik yang lain, untuk menekankan penyatuan yin dan yang—harmonisasi prinsip-prinsip laki-laki dan perempuan. Hal ini sebanding dengan tafsir-tafsir hermetik Barat mengenai siku-siku dan jangka (atau segitiga-segitiga yang saling berjalin) sebagai kesatuan hermafrodit dari daya-daya generatif.

Kemunculan berulang konsep ini mengisyaratkan bahwa simbol tersebut lahir dari kecenderungan bawaan manusia untuk memasangkan daya-daya yang saling melengkapi dan menggambarkan penciptaan sebagai perkawinan pertentangan. Ringkasnya, teori arketipe menyatakan bahwa bahkan tanpa kontak apa pun, kebudayaan-kebudayaan mungkin menciptakan kompleks simbol yang sama secara mandiri karena pikiran kita merespons secara serupa terhadap geometri alam dan dualitas keberadaan.

Tradisi “Misteri” yang Hilang atau Pengetahuan Kultis Bersama#

Penjelasan yang lebih esoteris (yang terkadang disukai oleh Freemason dan okultis) adalah bahwa suatu tradisi kebijaksanaan primordial menyebarluaskan simbolisme jangka–siku-siku secara luas pada zaman purbakala. Para pendukung gagasan ini menunjuk pada legenda bahwa pengetahuan Mesir menyebar ke negeri-negeri yang jauh, atau pada petunjuk biblis bahwa para leluhur awal memiliki rahasia-rahasia penciptaan.

Sebagai contoh, pengetahuan rahasia Masonik sering menelusuri akarnya hingga pembangunan Bait Suci Salomo (dan lebih jauh lagi hingga Nuh atau bahkan Adam). Sebagian Orang Suci Zaman Akhir juga berpendapat bahwa simbolisme bait suci (termasuk siku-siku dan jangka) merupakan fragmen agama asli yang diberikan kepada Adam dan dipertahankan dalam berbagai bentuk di berbagai kebudayaan. Dalam pandangan ini, tokoh-tokoh seperti Henokh, Hermes Trismegistus, atau pahlawan-pahlawan budaya lainnya mengajarkan seperangkat simbol inti melalui sekolah-sekolah misteri; dan meskipun lembaga-lembaga tersebut lenyap, simbol-simbolnya bertahan dalam ingatan rakyat.

Mungkinkah, misalnya, para misionaris Gnostik awal atau kaum Manikean membawa gagasan tentang “Arsitek Alam Semesta” (yang memegang jangka dan siku-siku) ke Tiongkok, sehingga memperkuat mitos yang telah ada? Menariknya, selama periode Han Timur dan Enam Dinasti, beragam kepercayaan asing (Buddhisme India, Manikeisme Persia, perdukunan Asia Tengah) masuk ke Tiongkok dan terkadang berbaur dengan konsep-konsep pribumi. Seni Manikean di Tiongkok, misalnya, memadukan citra Buddhis–Daois untuk merepresentasikan kosmologi Mani. Jika beberapa guru pengembara membawa diagram penciptaan atau mengajarkan geometri sebagai sesuatu yang ilahi, hal itu mungkin beresonansi dengan para pemikir Tionghoa, yang kemudian mengaitkannya dengan Fuxi dan Nüwa.

Meskipun bukti konkret mengenai suatu kultus kuno yang terpadu tidak ada (dan para sarjana arus utama bersikap hati-hati), gagasan ini tetap bertahan sebagai penjelasan romantis atas kebetulan-kebetulan dalam simbolisme. Gagasan ini membayangkan bahwa dari Mesir hingga Tiongkok, para ahli dari suatu “Tradisi Primordial” mengetahui skema siku-siku = Bumi, jangka = Langit, lalu mengajarkannya dalam kisah-kisah penciptaan dan ritus-ritus kuil mereka. Selama ribuan tahun, konteks aslinya hilang, tetapi simbol-simbol tersebut begitu kuat sehingga berintegrasi ke dalam mitos-mitos setempat—agak seperti mitos banjir yang terdapat hampir di mana-mana, mungkin berasal dari peristiwa nyata atau ingatan bersama. Hipotesis ini diakui bersifat spekulatif, tetapi menegaskan daya tarik yang dimiliki simbol-simbol tersebut: simbol-simbol itu terasa bermakna secara inheren, seolah-olah merupakan bagian dari bahasa mitos yang telah lama hilang.

Contoh-Contoh Paling Awal yang Diketahui#

Menentukan kemunculan paling awal dari pasangan jangka dan siku-siku merupakan hal yang sulit, tetapi beberapa kasus yang terdokumentasi dapat dicatat.

  • Tiongkok: Mural makam dari Han Barat (abad ke-2–1 SM) termasuk di antara visual pertama Fuxi dengan siku-siku dan Nüwa dengan jangka. Rujukan tekstual terhadap jangka/siku-siku sebagai prinsip moral atau kosmis muncul bahkan lebih awal (pada Dinasti Zhou, milenium pertama SM).
  • Barat: Penggambaran langsung dewa dengan jangka telah muncul pada Abad Pertengahan Tinggi (gambar dalam Bible moralisée, sekitar 1250 M, yang telah disebutkan di atas). Namun, penggunaan simbolis siku-siku dan jangka di Barat mungkin bermula dari bangkitnya serikat tukang batu abad pertengahan (abad ke-12–14) dan mungkin lebih awal dalam pengertian operatif.
  • Mesopotamia: Ikon tongkat dan cincin (sekitar 2000 SM) dapat dikatakan sebagai pendahulu yang memadukan alat berbentuk lingkaran dan alat lurus dalam konteks ilahi.
  • Mesir: Pada Kerajaan Baru (milenium ke-2 SM), dewi penulisan Seshat terkadang digambarkan dengan tongkat ukur berlekuk dan terlibat dalam tindakan kosmis menata letak kuil. Semua ini mungkin merupakan gema jauh dari siku-siku dan jangka.

Mengenai instrumen fisik: jangka (sebagai alat gambar dengan titik poros) kemungkinan muncul setelah geometri dan teknik mengalami kemajuan—barangkali pada periode Klasik Yunani atau sebelumnya (terdapat bukti mengenai jangka di Yunani kuno dan Tiongkok beberapa abad SM). Siku-siku (penggaris siku-siku) tentu telah dikenal oleh masyarakat mana pun yang membangun dengan kayu atau batu—oleh karena itu, penggunaannya sebagai simbol bisa benar-benar bersifat purba.

Sejumlah sarjana Tiongkok pernah berspekulasi bahwa kaisar-penemu Huangdi (2697–2597 SM), atau bahkan para orang bijak yang lebih awal, “menetapkan siku-siku dan lingkaran” sebagai cita-cita konseptual, meskipun atribusi semacam itu bersifat legendaris. Singkatnya, jejak bukti menunjukkan bahwa gagasan menggunakan alat-alat geometris untuk merepresentasikan penciptaan dan tatanan telah hadir dalam berbagai peradaban awal. Apakah salah satunya memengaruhi yang lain sering kali tidak jelas. Namun, kita dapat mengatakan bahwa pada masa Dinasti Han di Tiongkok dan era Gotik di Eropa, motif siku-siku dan jangka telah mengkristal di kedua tempat tersebut dengan cara yang sangat serupa.

Kesimpulan: Persatuan Langit dan Bumi dalam Simbol#

Dari uraian di atas, jelas bahwa pasangan siku-siku dan jangka merupakan simbol yang kuat dan menjembatani berbagai kebudayaan serta zaman. Dalam mitologi Tiongkok, jangka dan siku-siku milik Fuxi dan Nüwa menandakan penyatuan Langit dan Bumi untuk menciptakan dunia manusia. Dalam Freemasonry, jangka dan siku-siku mengajarkan manusia untuk menyelaraskan roh dan materi dalam dirinya—yang pada hakikatnya berarti menjadi pencipta tatanan dalam skala mikrokosmos. Di kuil-kuil Mormon, simbol-simbol ini dikenakan secara tersembunyi sebagai lambang perjanjian dan Penciptaan, yang mungkin merujuk pada penataan dunia oleh Tuhan dan tatanan moral yang diberikan kepada umat manusia.

Terlepas dari apakah seseorang lebih menyukai teori difusionis atau teori arketipal, kemunculan kembali motif ini menunjukkan suatu kebenaran abadi yang dikenali oleh bangsa-bangsa yang berjauhan: alam semesta memiliki tatanan yang mendasari, yang kerap dipahami dalam istilah geometris; dan keseimbangan kekuatan-kekuatan yang saling melengkapi (laki-laki–perempuan, langit–bumi, yin–yang) merupakan inti penciptaan. Siku-siku dan jangka—yang satu menggambar bujur sangkar sempurna Bumi, sedangkan yang lain menggambar lingkaran Langit—merupakan cara yang ringkas dan elegan untuk melambangkan kebenaran ini melampaui batas bahasa apa pun.

Menariknya, simbol ini juga merangkum peran manusia sebagai peniru pencipta ilahi. Fuxi dan Nüwa sama-sama merupakan pahlawan budaya yang mengajarkan manusia berbagai seni peradaban (perkawinan, menangkap ikan, berburu, menulis, dan sebagainya). Demikian pula, kaum Freemason memandang diri mereka sebagai pembangun yang, dengan hidup secara bermoral (berada pada “siku-siku”) dan menjaga keinginan mereka tetap dalam batas-batasnya (dengan “jangka”), turut berkontribusi pada penciptaan masyarakat ideal. Dalam banyak tradisi, menjadi penguasa atau pendeta berarti “memegang jangka dan siku-siku”—secara harfiah maupun kiasan—dengan menyelaraskan wilayah kekuasaannya dengan prinsip-prinsip kosmis. Bahkan aksara Tionghoa untuk “raja” (王) dijelaskan sebagai sosok yang menghubungkan Langit (—) dan Bumi (—), dengan dirinya sendiri sebagai sumbu vertikal (丨) di antaranya. Hal ini mencerminkan simbolisme jangka-siku-siku: penguasa atau orang bijak menempatkan dirinya di titik pertemuan lingkaran dan bujur sangkar, menyelaraskan keduanya.

Pada akhirnya, terlepas dari apakah siku-siku dan jangka pertama kali muncul dalam lingkaran batu Neolitikum, kuil Mesir, atau makam Dinasti Han, makna konvergen keduanya itulah yang memikat kita. Keduanya berbicara tentang sesuatu yang mendasar dalam imajinasi manusia: bahwa untuk mencipta, seseorang harus mengukur dan menyeimbangkan. Tidak mengherankan jika kita menemukan alat-alat ini di tangan para dewa, pendiri kebudayaan, dan manusia fana yang tercerahkan, dari Tiongkok hingga Eropa. Temuan-temuan mengejutkan dalam kajian ilmiah—seperti lukisan sutra Tiongkok di Asia Tengah yang, dalam segala hal, tampak seperti tablo Masonik—mengingatkan kita betapa terhubungnya kebudayaan manusia, dan betapa leluhur kita bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan kosmis yang sama. Siku-siku dan jangka, sebagai ikon berpasangan, memberikan jawaban visual: dunia tersusun dari dualitas-dualitas yang dipersatukan oleh rancangan, dan kita adalah para perancang dalam skala mikrokosmos. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana simbol dan mitos semacam ini bertahan serta berevolusi melintasi kebudayaan dan zaman, lihat artikel kami tentang Kelanggengan Mitos.

Sebagai kesimpulan, siku-siku dan jangka muncul dalam pengetahuan esoteris Barat serta dalam mitos penciptaan Tiongkok (dan di luarnya) karena keduanya merangkum suatu gagasan universal. Entah diwariskan melalui kontak kuno atau diciptakan secara mandiri, keduanya tetap bertahan karena dengan jelas merepresentasikan penciptaan, tatanan, dan penyatuan hal-hal yang berlawanan. Sebagaimana dinyatakan dalam salah satu analisis tentang Fuxi dan Nüwa, jangka (bulat) dan siku-siku (persegi) mengungkapkan filsafat yin-yang pada berbagai tingkatan—laki-laki dan perempuan, Langit dan Bumi—dan perkawinan keduanya membawa keharmonisan bagi kosmos. Demikian pula, seorang penulis Masonik mengamati bahwa jangka dan siku-siku melambangkan “hakikat ganda” manusia—sisi duniawi dan surgawi kita—serta tujuan untuk mendamaikan keduanya dalam rancangan “Arsitek Agung”. Melintasi ruang dan waktu, pesan simbol ini tampaknya ialah bahwa hukum-hukum alam semesta bersifat geometris dan moral, dan ketika kita menyelaraskan diri dengannya, kita turut serta dalam penciptaan.

Dengan demikian, alat-alat sederhana seorang pembangun menjadi, dalam mitos dan ritual, kunci menuju alam semesta. Dari pasangan pertama yang membentuk umat manusia dalam kisah-kisah Tiongkok hingga loji-loji persaudaraan modern, siku-siku dan jangka telah terbukti menjadi pasangan yang menggugah—sekaligus praktis dan mistis—yang mengarahkan berbagai bangsa kepada kebenaran yang sama: sebagaimana kita mengukur dunia, demikian pula kita diukur; sebagaimana kita menggambar Langit dan Bumi agar bersatu, demikian pula kita menemukan tempat kita dalam rancangan agung.

Tanya Jawab#

T1. Apakah simbol siku-siku–jangka Tiongkok dan Masonik secara historis saling berhubungan?
J. Tidak ada jalur langsung yang terbukti. Pasangan ini mengodekan makna semantis yang sama (Bumi berbentuk persegi, Langit berbentuk lingkaran; etika dan pengendalian diri), sehingga konvergensi masuk akal bersamaan dengan kemungkinan aliran gagasan melalui Jalur Sutra.

T2. Apa hubungannya “mengkuadratkan lingkaran” dengan hal ini?
J. Itu merupakan lambang penyatuan tatanan material dan spiritual—secara matematis mustahil sebagai konstruksi klasik, tetapi secara simbolis tepat untuk penyatuan jangka–siku-siku di berbagai tradisi.

T3. Apa hubungan tongkat dan cincin Mesopotamia dengannya?
J. Itu merupakan seperangkat alat ukur yang lebih tua (penggaris + tali) yang dianugerahkan oleh para dewa, secara fungsional serupa dengan siku-siku + jangka sebagai instrumen hukum/tatanan kosmis, tetapi belum tentu memiliki hubungan genealogis.

T4. Mengapa motif ini bertahan melintasi berbagai agama?
J. Alat-alat yang menghasilkan garis lurus dan lingkaran sempurna secara alami melambangkan tatanan, keadilan, dan penciptaan. Alat-alat tersebut dapat dipahami secara universal, sehingga bertahan lama dan mudah dibawa sebagai lambang sakral.

Sumber#

  1. Mitologi dan kosmologi Tiongkok tentang Fuxi dan Nüwa dengan jangka dan siku-siku
  2. Makna moral dan kosmologis jangka & siku-siku dalam karya-karya klasik Tiongkok
  3. Penggunaan Siku-Siku dan Jangka oleh Freemasonry serta penafsirannya
  4. Seni Kristen abad pertengahan (“God the Geometer”) yang menggunakan jangka dalam Penciptaan
  5. Adopsi simbol siku-siku dan jangka oleh Mormon (pakaian kuil, penunjuk arah angin Kuil Nauvoo)
  6. Hugh Nibley tentang kain penutup makam Asia Tengah dengan motif siku-siku & jangka
  7. “rod and ring” Mesopotamia (lingkaran dan penggaris) sebagai pendahulu kuno
  8. Persebaran citra Fuxi–Nüwa di makam-makam Dinasti Han, dengan keduanya memegang alat-alat kosmis
  9. Pengamatan ilmiah tentang simbolisme langit-bulat, bumi-persegi, dan yin-yang
  10. Pertukaran budaya Jalur Sutra yang dibuktikan oleh lukisan makam Astana dan mumi Tarim