TL;DR
- Mitos-mitos dunia sering menggambarkan pencipta perempuan, yang memicu teori-teori tentang matriarki kuno (kekuasaan atau sentralitas perempuan).
- J.J. Bachofen (1861) mengajukan gagasan tentang tahap universal “Mother Right”, yang memengaruhi Engels, kaum feminis, dan bahkan sejumlah ideolog Nazi, meskipun sering kali didasarkan pada penafsiran terhadap mitos.
- Para antropolog abad ke-19 dan ke-20 memperdebatkan hal ini; tokoh-tokoh seperti Morgan mendukungnya, sementara Maine, Westermarck, dan kemudian Malinowski mengkritiknya karena tidak menemukan bukti jelas mengenai kekuasaan politik perempuan.
- Feminisme gelombang kedua menghidupkan kembali minat terhadap gagasan ini (misalnya, “Eropa Lama” milik Gimbutas), tetapi menghadapi kritik akademis yang menekankan kurangnya bukti dan adanya penafsiran alternatif (misalnya, mitos-mitos Bamberger yang justru membenarkan patriarki).
- Penelitian modern berfokus pada kontribusi nyata perempuan (hipotesis nenek, pembiakan kooperatif, asal-usul bahasa melalui motherese, serta kemungkinan peran dalam inovasi dan pertanian) dan analogi dengan primata (bonobo), alih-alih matriarki dalam arti harfiah. Konsensusnya: tidak ada masyarakat matriarkal yang terbukti, tetapi perempuan merupakan pembentuk kebudayaan yang sangat penting.
Pencipta Perempuan dalam Mitos dan Kosmologi#
Dalam berbagai mitologi dunia, perempuan kerap tampil sebagai pencipta primordial atau pembawa kebudayaan. Dalam narasi Dreamtime masyarakat Aborigin Australia, misalnya, saudari-saudari leluhur dipercaya menetapkan hukum dan upacara. Saudari-Saudari Wawilak di Arnhem Land “menetapkan sebagian besar hukum dan upacara” bagi manusia pertama, serta mengajarkan kepada mereka kode moral yang hingga kini tetap bertahan. Dalam perjalanan mereka, para saudari ini menamai daratan dan menciptakan ritual-ritual sakral, yang pada dasarnya meletakkan dasar bagi unsur-unsur utama kebudayaan dalam tradisi Yolngu. Tema serupa muncul di tempat lain: dalam kosmologi Navajo, Changing Woman merupakan figur sentral yang melahirkan sepasang pahlawan kebudayaan kembar dan membantu membentuk dunia “Earth Surface People”, dengan memperkenalkan keteraturan dan makhluk-makhluk baru ke dalam penciptaan. Dalam kisah Shinto Jepang, dewi matahari Amaterasu bukan hanya mewujudkan daya surya yang menghidupkan, melainkan secara mitologis juga merupakan leluhur garis kekaisaran; kaisar Jepang pertama dikatakan sebagai keturunannya, yang menandai asal-usul ilahi perempuan bagi otoritas sosial.
Mitos-mitos ini mengartikulasikan suatu pandangan mengenai perempuan sebagai penghasil kehidupan dan hukum. Banyak masyarakat awal mempersonifikasikan bumi atau kesuburan sebagai perempuan—mulai dari dewi-dewi Ibu Agung di Eropa Lama hingga figur “perempuan pertama” dalam legenda-legenda masyarakat adat. Seni prasejarah mengisyaratkan gagasan serupa: kelimpahan figur “Venus” Paleolitik telah mendorong sejumlah sarjana untuk mengajukan hipotesis tentang adanya kultus kuno terhadap Dewi Ibu, yang menyiratkan bahwa manusia awal memuja prinsip kreatif perempuan sebagai sumber kebudayaan dan komunitas. Meskipun penafsirannya beragam, bukti mitis dan simbolis semacam itu menjadi landasan bagi para teoretikus berikutnya yang membayangkan bahwa perempuan pernah benar-benar memegang peran dominan dalam masyarakat, sehingga melahirkan institusi-institusi manusia yang paling awal.
Mutterrecht Bachofen: Prasejarah Matriarkal#
Gagasan ilmiah modern mengenai perempuan sebagai pencetus peradaban bermula dari buku penting Johann Jakob Bachofen yang terbit pada 1861, Das Mutterrecht (“Mother Right”). Bachofen, seorang ahli hukum dan klasikis Swiss, mengemukakan bahwa masyarakat manusia pernah melalui tahap gyneokratis (diperintah oleh perempuan) pada masa awal sebelum patriarki. Ia berpendapat bahwa pada era primitif umat manusia, hubungan seksual yang bebas dan tidak terbatas berlaku (“Hetärismus”), yang berarti bahwa paternitas tidak dapat dipastikan; karena itu, garis keturunan dan pewarisan hanya dapat ditelusuri melalui ibu. Menurut Bachofen, hal ini melahirkan suatu periode universal mother-right (Mutterrecht), ketika perempuan—sebagai satu-satunya orang tua yang dapat diverifikasi—menikmati penghormatan dan otoritas yang tinggi. Ia meyakini bahwa “masyarakat manusia pertama bersifat matriarkal dan dicirikan oleh pergaulan seksual yang luas, yang tercermin dalam pemujaan terhadap dewi-dewi perempuan.” Ia memperlakukan mitologi seolah-olah mitologi merupakan catatan fosil evolusi sosial, dengan bersikeras bahwa mitos adalah “ungkapan hidup dari tahap-tahap perkembangan suatu bangsa”. Sebagai contoh, ia memandang tragedi Yunani tentang Orestes—ketika Orestes diadili karena membunuh ibunya, Clytemnestra—sebagai simbol penggulingan mother-right oleh father-right pada zaman kuno. (Dalam drama tersebut, dewa-dewa baru, Apollo dan Athena, berpihak kepada Orestes, sehingga melegitimasi prinsip bahwa garis keturunan ayah lebih penting daripada garis keturunan ibu; dengan demikian, secara alegoris, keduanya merepresentasikan kemenangan patriarki.) Bachofen juga memanfaatkan laporan mengenai kebiasaan masyarakat asing (misalnya, ia mencatat kekerabatan melalui garis ibu di kalangan orang Likia di Asia Kecil) serta simbol-simbol perempuan dalam arkeologi. Dari semua itu, ia menyusun suatu skema evolusioner besar mengenai tahap-tahap kebudayaan: dari Hetärismus yang kacau muncul era matriarkal yang berpusat pada bumi dan kesuburan (yang dicontohkan oleh pertanian dan pemujaan dewi), yang pada gilirannya kemudian digantikan oleh tatanan patriarkal.
Yang patut dicatat, Bachofen mengidealkan zaman matriarkal sebagai zaman yang damai dan harmonis secara sosial. Menurut pandangannya, “periode matriarkal dalam sejarah umat manusia merupakan masa yang memiliki keagungan luhur,” ketika nilai-nilai perempuan berkuasa: para ibu mengilhami “kesucian dan puisi”, mengejar perdamaian dan keadilan sembari menjinakkan “maskulinitas laki-laki yang liar dan tanpa hukum”. Ia meyakini bahwa prinsip feminin menyucikan keluarga dan masyarakat hingga akhirnya digantikan oleh prinsip laki-laki yang lebih agresif. Karya Bachofen yang menggugah (meskipun spekulatif) menggambarkan peralihan menuju patriarki sebagai suatu revolusi yang mendalam. Ia, misalnya, menulis bahwa dalam mitos Yunani diperlukan campur tangan ilahi—kedatangan dewa-dewa patriarkal baru—untuk “melaksanakan mukjizat penggulingan mother-right” dan menegakkan father-right.
Teori-teori Bachofen berani dan tidak lazim pada masanya. Ketergantungannya pada pembacaan intuitif terhadap mitos serta penegasannya bahwa legenda mempertahankan gambaran “realistis, meskipun terdistorsi” mengenai realitas sosial prasejarah mengusik para sarjana yang lebih berorientasi empiris. Antropolog Finlandia terkemuka, Edvard Westermarck, dalam The History of Human Marriage (1891), menolak metode Bachofen karena “terganggu oleh gagasan Bachofen bahwa mitos dan legenda mempertahankan ‘ingatan kolektif’ suatu bangsa”.
Meskipun demikian, Das Mutterrecht menanamkan benih yang kelak sangat memengaruhi generasi pemikir (baik secara positif maupun negatif). Sebagaimana dicatat oleh seorang sejarawan, Bachofen “menciptakan teori tentang perkembangan manusia dan kebudayaan” dengan menempatkan perempuan di pusatnya; dan meskipun pada awalnya diabaikan, gagasan-gagasannya kemudian diadopsi di berbagai spektrum ideologis di Jerman—oleh kaum sosialis, fasis, feminis, dan antifeminis sekaligus.
Antropologi Evolusioner dan Perdebatan tentang Matriarki (1860-an–1900-an)#
Tesis Bachofen muncul tepat ketika antropologi dan teori sosial sedang mengembangkan kerangka-kerangka evolusioner bagi institusi-institusi manusia. Pada akhir abad ke-19, sejumlah sarjana terkemuka menerima ataupun menentang gagasan tentang matriarkat arkais sembari menyusun teori-teori besar mengenai kemajuan masyarakat.
Di satu pihak, Bachofen memperoleh pendukung yang antusias di kalangan antropolog dan teoretikus sosial awal yang sedang mencari tahap-tahap universal evolusi kebudayaan. Etnolog Amerika Lewis Henry Morgan—yang terkenal karena penelitiannya mengenai suku Iroquois—secara independen menyimpulkan bahwa masyarakat prasejarah pada mulanya diorganisasikan berdasarkan klan-klan matrilineal. Dalam Ancient Society (1877), Morgan mendokumentasikan bagaimana banyak masyarakat adat menelusuri kekerabatan melalui ibu dan mengemukakan bahwa umat manusia primitif mempraktikkan perkawinan kelompok, sehingga ibu merupakan satu-satunya orang tua yang pasti. Ia melihat dalam sistem kekerabatan “klasifikatoris” masyarakat adat Amerika Utara suatu petunjuk bahwa, pada masa awal, “garis keturunan melalui perempuan” merupakan norma sebelum munculnya monogami dan garis keturunan paternal. Pendekatan Morgan yang berbasis bukti (dengan bertumpu pada data etnografis dari masyarakat Iroquois, Polinesia, dan lain-lain) memberikan bobot empiris tertentu pada intuisi Bachofen. Pendekatan tersebut meyakinkan Morgan bahwa keluarga patriarkal dan monogamis merupakan perkembangan yang relatif belakangan dalam sejarah manusia, yang didahului oleh era panjang yang ia sebut sebagai organisasi klan maternal.
Antropolog Inggris John Ferguson McLennan juga berpendapat pada 1865 dan 1886 bahwa masyarakat awal menganut garis keturunan maternal; ia menciptakan istilah “eksogami” dan mengemukakan bahwa penculikan istri serta kelangkaan perempuan melahirkan kebiasaan-kebiasaan yang secara tidak langsung mengisyaratkan adanya sistem mother-right sebelumnya. McLennan pada akhirnya mengakui Bachofen sebagai orang yang pertama kali mengidentifikasi garis keturunan maternal. Bahkan James G. Frazer, penulis terkenal The Golden Bough, tertarik pada gagasan ini—ia menetapkan tugas bagi dirinya sendiri untuk menghimpun bukti global mengenai matriarki, dengan berusaha memperkuat klaim Bachofen melalui folklor dan mitos komparatif.
Yang mungkin paling berpengaruh, Friedrich Engels—teoretikus Marxis—mengadopsi gagasan mengenai matriarki primordial dan merangkainya ke dalam materialisme historis. Dalam The Origin of the Family, Private Property and the State (1884), Engels sangat mengandalkan Morgan (yang ia puji karena menemukan “prasejarah” keluarga) serta wawasan Bachofen. Engels menyatakan bahwa keruntuhan mother-right berkaitan erat dengan munculnya kepemilikan pribadi. Dalam masyarakat komunal kesukuan, menurut argumennya, perempuan memiliki status yang relatif tinggi; tetapi ketika kekayaan terakumulasi dan paternitas menjadi penting bagi pewarisan, laki-laki merebut kendali. Engels terkenal karena menulis: “Penggulingan mother-right merupakan kekalahan bersejarah dunia bagi jenis kelamin perempuan… die Frau wurde entwürdigt, geknechtet, … bloßes Werkzeug der Kinderzeugung.” Menurut Engels, “kekalahan” perempuan ini mengantarkan ketidaksetaraan kelas yang pertama (antara jenis kelamin), yang kemudian diperparah oleh stratifikasi kelas. Ia mengaitkan munculnya patriarki dengan kemunculan harta yang dapat diwariskan dan perkawinan monogamis yang dirancang untuk memastikan kepastian paternitas.
Perumusan dramatis Engels membuat hipotesis matriarki dikenal luas di kalangan kiri dan feminis. Perumusan itu juga mengaitkan secara erat kepercayaan terhadap matriarki prasejarah dengan tafsir politik tertentu: bagi kaum Marxis, mother-right primitif merepresentasikan bentuk awal masyarakat komunal dan egaliter yang kemudian dihancurkan oleh kemunculan masyarakat kelas. Politisasi ini terkadang membayangi bukti empiris. Sebagaimana kelak dikemukakan antropolog Robert Lowie, Engels dan tokoh-tokoh lainnya begitu terpikat oleh visi Morgan dan Bachofen sehingga “realitas historis suatu zaman matriarki” kerap diasumsikan, alih-alih dibuktikan.
Sementara itu, sarjana-sarjana lain dengan tegas menentang gagasan tentang matriarki primordial. Yuris Inggris Sir Henry Maine, sejak 1861, bersikeras bahwa unit sosial dasar masyarakat paling awal adalah keluarga patriarkal, bukan klan matriarkal. Maine, yang berlatar belakang hukum kuno (dan dipengaruhi oleh gambaran klasik mengenai patria potestas di Roma), berpendapat bahwa otoritas paternal dan kekerabatan agnatik bersifat purba. Ia memandang teori-teori seperti teori Bachofen sebagai “roman” spekulatif yang bertentangan baik dengan sejarah hukum Romawi maupun dengan Alkitab. Pada 1891, kajian ekstensif Westermarck mengenai perkawinan juga menyimpulkan bahwa meskipun kekerabatan maternal lazim ditemukan dalam banyak kebudayaan, tidak terdapat bukti kuat mengenai suatu masa lampau ketika perempuan berkuasa atas laki-laki; ia berupaya “menegakkan kembali teori patriarkal Maine mengenai asal-usul manusia” dan menolak bukti mitis Bachofen. Menjelang pergantian abad ke-20, sejumlah besar antropolog bersikap skeptis bahwa masyarakat mana pun pernah benar-benar menjadi matriarki (dalam pengertian pemerintahan politik oleh perempuan)—skeptisisme yang akan semakin menguat seiring bertambahnya data etnografis.
Perkembangan Awal Abad ke-20: Dari Pemujaan Dewi hingga Kritik#
Sekitar awal abad ke-20, hipotesis matriarki disempurnakan oleh bukti-bukti baru sekaligus diserang oleh ilmuwan sosial yang sedang berkembang. Di pihak yang mendukung, Klasikis Jane Ellen Harrison dan para Cambridge Ritualists menerapkan gagasan-gagasan Bachofen pada kebudayaan Yunani kuno. Harrison meyakini bahwa Yunani pra-Helenik dicirikan oleh agama yang berpusat pada dewi dan, barangkali, adat sosial matrilineal. Dalam karya-karya seperti Prolegomena to the Study of Greek Religion (1903) dan Themis (1912), ia berpendapat bahwa banyak mitos dan ritual Olimpus (kultus Demeter, kisah Amazon, dan sebagainya) melestarikan jejak suatu zaman terdahulu yang matriarkal atau setidaknya “matrifokal”. Tafsirnya atas seni dan mitos Yunani mengemukakan adanya substratum emosional, komunal, dan berpusat pada perempuan di bawah pantheon yang kelak didominasi laki-laki. Harrison bahkan menggambarkan kebudayaan Yunani arkais sebagai kebudayaan “mother-right” yang digulingkan oleh invasi-invasi berikutnya, sejalan dengan narasi evolusioner Bachofen. Hal ini memicu penolakan dari kalangan klasikis yang lebih konservatif: sarjana seperti Lewis Farnell dan Paul Shorey mengkritik Harrison dengan tajam, sering kali dalam istilah yang diwarnai bias gender pada zaman mereka. Mereka mencemooh gagasan matriarkalnya sebagai khayalan dan menuduhnya memanjakan diri dalam apa yang disebut seseorang sebagai “Helenisme kebebasan-seksual”, dengan mengaitkan teori akademisnya dengan gagasan skandalus mengenai emansipasi perempuan. Reaksi-reaksi ini memperlihatkan bagaimana perdebatan tersebut bersinggungan dengan sikap-sikap kontemporer—karya Harrison pada dasarnya diserang sebagai subversi feminis terhadap kajian klasik pada masa ketika gerakan hak pilih perempuan sedang berada pada puncaknya.
Barangkali perluasan paling ambisius atas tesis “perempuan sebagai pendiri kebudayaan” pada era ini adalah The Mothers: A Study of the Origins of Sentiments and Institutions (1927) karya Robert Briffault. Briffault—antropolog Inggris kelahiran Prancis—menghimpun koleksi contoh etnografis yang ensiklopedis untuk berpendapat bahwa hampir semua aspek fundamental peradaban berasal dari ranah maternal. Ia menegaskan bahwa kehidupan sosial manusia awal dibentuk oleh kontribusi perempuan: menurut pandangannya, keluarga sendiri adalah “produk naluri perempuan” dan perempuan merupakan pihak pertama yang menciptakan ikatan sosial. Briffault mendefinisikan matriarki purba tidak mesti sebagai pemerintahan politik perempuan atas laki-laki, melainkan sebagai keadaan ketika perempuan menjadi pusat kehidupan sosial dan pencipta kebudayaan. Ia berspekulasi, misalnya, bahwa ritual pertama dan kultus keagamaan dikembangkan oleh perempuan—dengan mencatat keunggulan yang tersebar luas dari dewi-dewi lunar dan tabu menstruasi, ia menyimpulkan bahwa perempuan sebagai “hierofan pertama kultus lunar” memegang otoritas spiritual awal. Ia juga merumuskan “Hukum Briffault”, yang dalam bentuk populernya berbunyi: “Perempuan, bukan laki-laki, menentukan semua kondisi keluarga hewan. Jika perempuan tidak dapat memperoleh manfaat apa pun dari pergaulan dengan laki-laki, pergaulan semacam itu tidak akan terjadi.” Dengan kata lain, unit keluarga atau sosial yang bertahan lama terbentuk di sekitar kebutuhan dan pilihan perempuan. (Briffault menjelaskan bahwa ia sedang mendeskripsikan hewan, bukan mengatakan bahwa masyarakat manusia identik dengan harem hewan. Namun, implikasinya adalah bahwa keluarga manusia bermula dari prakarsa maternal—perempuan mengizinkan laki-laki masuk ke dalam kelompok hanya ketika hal itu berguna.)
Karya Briffault secara berani menyatakan bahwa perempuan menciptakan peradaban, mulai dari perkawinan dan memasak hingga hukum dan agama. Ini merupakan tantangan langsung terhadap narasi dominan bahwa aktivitas laki-laki (seperti berburu atau membuat perkakas) mendorong kemajuan. Namun, para antropolog arus utama pada masa itu tidak merasa yakin. Menjelang akhir 1920-an, antropologi sosial bergerak menuju fungsionalisme dan skeptisisme terhadap evolusi unilinear. Bronisław Malinowski, yang telah mempelajari penduduk Kepulauan Trobriand yang matrilineal, menentang kesimpulan Briffault. Malinowski menemukan bahwa bahkan dalam masyarakat tanpa konsep kebapakan biologis (penduduk Trobriand meyakini bahwa anak-anak dikandung dari roh leluhur), laki-laki sama sekali bukan tidak relevan—paman dari pihak ibu dan suami memainkan peran vital dalam kehidupan sosial dan politik kelompok tersebut. Ia berdebat dengan Briffault pada 1930-an, dengan menyatakan bahwa keluarga manusia awal kemungkinan selalu melibatkan kontribusi laki-laki yang signifikan dan bahwa fase “berpusat pada ibu” telah dibesar-besarkan. Dalam analisis Malinowski, tidak ada masyarakat yang diketahui memberikan kekuasaan eksklusif kepada perempuan; yang berbeda adalah apakah garis keturunan ditelusuri melalui ibu atau ayah, bukan adanya “kekuasaan perempuan” total atas laki-laki.
Selain itu, beberapa sarjana menawarkan model-model evolusioner yang lebih kompleks. Etnolog Austria Wilhelm Schmidt pada 1930-an mengajukan asal-usul kebudayaan multilinear: ia menyatakan bahwa terdapat tiga tipe utama kebudayaan prasejarah—matrilineal, patrilineal, dan patriarkal—yang bergantung pada beragam faktor ekologis. Secara khusus, Schmidt berpendapat bahwa peran perempuan dalam budi daya tanaman awal mungkin telah meningkatkan status mereka dan mendorong pemujaan dewi di sejumlah wilayah. Hal ini menyerupai teori-teori modern yang menyatakan bahwa perempuan kemungkinan memprakarsai pertanian (sebagai pengumpul yang melakukan domestikasi tanaman) dan menciptakan teknologi-teknologi penting seperti penenunan dan tembikar, sehingga mengkatalisasi revolusi Neolitik. Meskipun karya Schmidt kini jarang dikutip, karya itu menunjukkan upaya untuk memasukkan gender dan lingkungan ke dalam kisah asal-usul kebudayaan, alih-alih mengandaikan satu zaman matriarkal universal.
Menjelang pertengahan abad tersebut, bobot bukti etnografis baru mendorong sebagian besar antropolog mengambil sikap kritis terhadap hipotesis matriarki. Survei mengenai masyarakat kesukuan gagal menemukan contoh yang tidak terbantahkan mengenai sistem politik yang didominasi perempuan. Antropolog Alfred Radcliffe-Brown menyatakan pada 1924 bahwa “klan maternal bukanlah matriarki”—yakni, kekerabatan matrilineal tidak boleh dicampuradukkan dengan perempuan yang menjalankan otoritas atas laki-laki. Pada 1930, E.E. Evans-Pritchard bahkan mengusulkan bahwa seluruh gagasan tentang tahap matriarkal kuno merupakan produk fantasi (atau kecemasan) laki-laki, bukan realitas historis. Meskipun demikian, gagasan mengenai suatu zaman yang hilang dan dipimpin perempuan tetap memikat, dan segera menemukan kehidupan baru dalam konteks ideologis yang berbeda.
Ideologi dan Tafsir: Politik Matriarki Primordial#
Karena persoalan keutamaan perempuan dalam kebudayaan menyentuh isu-isu mendasar mengenai kekuasaan dan identitas, persoalan ini sejak awal telah terjalin dengan ideologi. Reaksi terhadap tesis matriarki sering kali mencerminkan zeitgeist pada zamannya—mulai dari patriarki Viktorian hingga Jerman Nazi dan feminisme Gelombang Kedua.
Para antropolog dan teoretikus sosial Viktorian yang mempertahankan norma-norma patriarkal termasuk di antara pihak pertama yang menolak model matriarkal. Teori patriarkal Sir Henry Maine, yang telah disebutkan di atas, sebagian dapat dipandang sebagai pembelaan terhadap status quo: teori itu selaras dengan narasi Biblikal mengenai para patriark dan dengan adat sosial Viktorian yang menganggap otoritas laki-laki sebagai sesuatu yang alamiah dan purba. Ketika temuan-temuan Bachofen dan Morgan mulai beredar, sejumlah sarjana konservatif memandangnya sebagai ancaman. Gagasan bahwa kebapakan merupakan penemuan yang muncul belakangan dan bahwa masyarakat awal menghormati garis keturunan perempuan berbenturan dengan keyakinan Kristen maupun Viktorian mengenai peran ayah yang dianugerahkan Tuhan. Sebagaimana dinyatakan secara pedas oleh salah satu karya rujukan pada awal 1900-an, konsep matriarki sebagai tahap perkembangan adalah “secara ilmiah tidak dapat dipertahankan” dan istilah itu sendiri menyesatkan. Penolakan-penolakan semacam ini menunjukkan bahwa pada masa itu, lembaga akademik pada umumnya telah menolak gagasan tersebut—kemungkinan bukan hanya berdasarkan alasan empiris, melainkan juga karena gagasan itu menantang narasi patriarkal yang telah mengakar kuat.
Di dunia berbahasa Jerman, karya Bachofen mengalami kebangkitan kembali pada awal abad ke-20 dan menemukan pengagum yang tidak terduga di kalangan pemikir nasionalis dan fasis. Ini merupakan suatu pembalikan historis yang mencolok: meskipun Sosialisme Nasional secara terbuka mengagungkan laki-laki Arya dan menempatkan perempuan dalam ranah “Kinder, Küche, Kirche” (anak-anak, dapur, gereja), sejumlah intelektual Nazi tertarik pada mitos matriarki kuno. Para sarjana mencatat bahwa “mitos matriarkal” memiliki ambideksteritas politik yang ganjil: mitos itu dapat menarik bagi kelompok kiri ekstrem (Marxis, feminis) maupun kelompok kanan ekstrem. Di Jerman pada tahun 1920-an dan 1930-an, berbagai penulis völkisch (nasionalis-folkloris) mengambil alih gagasan Bachofen. Misalnya, Alfred Baeumler, filsuf Nazi terkemuka, melihat dalam masa lampau Indo-Eropa suatu sinergi antara prinsip maskulin dan feminin; ia mengakui adanya suatu periode prasejarah ginekokrasi, tetapi menjadikannya kontras mulia bagi tatanan gender modern. Ia meyakini (seperti Bachofen) bahwa kemandirian perempuan pernah benar-benar ada, tetapi secara tepat telah ditaklukkan oleh kepemimpinan laki-laki—namun ia juga menyatakan bahwa menghidupkan kembali cita-cita spiritual masa lampau matriarkal dapat meremajakan bangsa. Contoh lainnya adalah Alfred Rosenberg, ideolog utama Partai Nazi, yang dalam The Myth of the Twentieth Century (1930) merujuk pada matriarki purba dengan cara yang berbelit-belit: Rosenberg membayangkan suatu zaman keemasan Arya yang telah hilang dan tidak persis bersifat matriarkal, tetapi ia memang menonjolkan tingginya status perempuan dan simbol-simbol ibu di kalangan bangsa “Nordik” kuno. Para pendukung teori matriarkal dari kalangan Nazi tidak pernah membingkainya sebagai perempuan yang memerintah laki-laki; sebaliknya, mereka mengidealkan “keibuan Jermanik” sebagai inti yang memelihara Volksgemeinschaft (komunitas rakyat). Pada hakikatnya, mereka menggunakan prestise masa lampau untuk mengagungkan keibuan—tetapi hanya dalam suatu tatanan gender yang sangat seimbang, tempat keberanian berperang laki-laki tetap berkuasa.
Penting untuk dicatat bahwa ketertarikan Nazi terhadap gagasan-gagasan ini bersifat marginal dan agak kontradiktif. Sikap keseluruhan Reich Ketiga adalah bahwa patriarki dan dominasi laki-laki bersifat alamiah (Hitler dan Himmler tentu tidak memercayai keunggulan sosial perempuan). Namun, sebagaimana ditulis seorang sarjana, “gagasan Bachofen tentang matriarki menemukan para pembela bahkan di kalangan kepemimpinan Nazi, terlepas dari perayaan rezim tersebut terhadap kejantanan Arya.” Paradoks ini menggambarkan betapa mudah berubahnya narasi matriarkal: di tangan Nazi, narasi itu dipelintir untuk memperkuat cita-cita reaksioner mengenai perempuan sebagai ibu yang diagungkan, tetapi secara politik tetap subordinat. Namun, pada akhir Perang Dunia II, gagasan-gagasan semacam itu sebagian besar menghilang dari wacana resmi karena tercemar oleh keterkaitannya dengan okultisme Nazi dan pseudo-sejarah völkisch.
Di Uni Soviet dan konteks-konteks Marxis lainnya, teori matriarkal mengalami perkembangan yang berbeda. Otoritas Engels menjadikan gagasan tentang matriarki primordial (dan keruntuhannya) semacam ortodoksi Marxis pada awal abad ke-20. Para antropolog dan sejarawan Soviet, mengikuti Engels, mengajarkan suatu rangkaian tahap masyarakat: komunisme primitif dengan hak-ibu, kemudian masyarakat kelas dengan hak-ayah, dan akhirnya komunisme masa depan yang memulihkan kesetaraan. Dalam praktiknya, penelitian Soviet pada tahun 1920-an hingga 1950-an memang mencari bukti klan-klan matrilineal di antara masyarakat Uni Soviet dan di luarnya, sering kali dengan menekankan temuan-temuan yang sesuai dengan kerangka Morgan–Engels. Namun, mereka tidak sampai menyatakan bahwa perempuan memerintah kelompok-kelompok tersebut—persoalannya lebih berkaitan dengan struktur sosial komunal daripada dominasi perempuan. Kegunaan politik narasi ini bagi kaum Marxis sudah jelas: narasi tersebut menegaskan bahwa patriarki modern (dan, lebih jauh, kapitalisme) bukan sesuatu yang abadi atau alamiah, melainkan perkembangan historis yang dapat dibalikkan. Meskipun demikian, pada paruh akhir abad ke-20, bahkan para sarjana Marxis seperti Evelina B. Pavlovskaya mulai mengakui bahwa “matriarki klasik” tidak pernah menjadi kenyataan yang terdokumentasi, dan mereka beralih membicarakan egalitarianisme relatif dalam masyarakat awal.
Pada tahun 1970-an, di tengah gerakan feminis Gelombang Kedua, gagasan tentang suatu zaman prasejarah yang berpusat pada perempuan mencapai jangkauan popularitasnya yang paling luas—dan memicu penelaahan ilmiah baru. Banyak penulis, seniman, dan aktivis feminis terinspirasi oleh visi tentang kebudayaan Dewi kuno, tempat perempuan memiliki otonomi dan penghormatan yang tidak ditemukan dalam sejarah tercatat. Temuan-temuan arkeologis dan reinterpretasi turut menyuburkan gagasan ini. Secara khusus, arkeolog Lituania-Amerika Marija Gimbutas mengembangkan konsep “Eropa Lama”, suatu peradaban Neolitik (sekitar 7000–3000 SM di Balkan dan Anatolia) yang dicirikannya sebagai penyembah dewi, egaliter, dan matristik. Penggalian Gimbutas menemukan banyak figur perempuan, dan ia mengidentifikasi simbol-simbol yang menurutnya menunjukkan adanya agama dewi ibu yang dominan. Menurut pandangannya, masyarakat Eropa Lama ini hidup damai dan berpusat pada perempuan sampai para pengembara Indo-Eropa—pejuang patriarkal—menyerbu dan memberlakukan tatanan yang didominasi laki-laki. Gimbutas tidak sampai menyebut kebudayaan-kebudayaan ini matriarkal (ia lebih menyukai istilah seperti “berpusat pada perempuan” atau matristik), karena ia tidak menyatakan bahwa perempuan memiliki kekuasaan formal atas laki-laki. Meskipun demikian, karyanya diangkat oleh kaum feminis sebagai bukti bahwa patriarki tidak selalu menjadi norma.
Sementara itu, buku-buku populer karya penulis seperti Elizabeth Gould Davis (The First Sex, 1971) dan Merlin Stone (When God Was a Woman, 1976) melukiskan gambaran hidup tentang suatu zaman keemasan matriarki dan agama dewi yang telah hilang. Mereka bertumpu pada sumber-sumber seperti Bachofen, Briffault, dan Gimbutas (disertai sejumlah rekonstruksi imajinatif) untuk menyatakan bahwa perempuan merupakan kekuatan pembawa peradaban yang pertama—menemukan pertanian, tulisan, pengobatan, dan pemerintahan yang damai—sampai kekerasan laki-laki membalikkan keseimbangan tersebut. Karya-karya ini beresonansi dengan gerakan spiritual feminis dan turut menyumbang pada melonjaknya spiritualitas Dewi serta praktik neopagan pada akhir abad ke-20. Bagi sebagian orang, mempercayai adanya masa lampau yang jauh ketika “perempuan dipuja sebagai deitas” dan masyarakat terbebas dari dominasi laki-laki merupakan sesuatu yang sangat memberdayakan, suatu narasi tandingan mitis terhadap patriarki. Dalam kalangan feminis tertentu, “prasejarah matriarkal” ini hampir menjadi dogma, yang digunakan untuk membayangkan masa depan alternatif. Sebagaimana diamati sejarawan Cynthia Eller, “dalam sebagian kalangan feminis, apa yang saya sebut sebagai mitos prasejarah matriarkal telah berkuasa sebagai dogma politik; dalam kalangan lain, mitos itu menjadi bahan pemikiran; dan dalam kalangan yang lain lagi, mitos itu berfungsi sebagai dasar agama baru.”
Namun, kebangkitan penuh antusiasme ini memicu tanggapan kritis dari para sarjana, termasuk banyak feminis, yang mengkhawatirkan angan-angan yang tidak berdasar. Sejak 1949, Simone de Beauvoir telah meredam gagasan tentang utopia matriarkal. Dalam The Second Sex, Beauvoir menolak hipotesis tentang matriarki asal-usul sebagai “les élucubrations de Bachofen”—“lucubration (ocehan menggelikan) Bachofen.” Ia dan para intelektual pertengahan abad lainnya (seperti antropolog Françoise Héritier di Prancis) berpendapat bahwa meskipun dewi perempuan atau simbol-simbol ibu lazim ditemukan, tidak ada bukti bahwa perempuan sebagai kelompok pernah memerintah pada masa prasejarah. Pada 1974, antropolog Joan Bamberger menerbitkan esai terkenal berjudul “The Myth of Matriarchy: Why Men Rule in Primitive Society,” yang mengkaji mitos-mitos dari suku-suku Amazon tentang perempuan yang konon pernah memegang kekuasaan. Bamberger menemukan bahwa kisah-kisah tersebut diceritakan oleh laki-laki sebagai kisah peringatan—mengajarkan bahwa ketika perempuan berkuasa, mereka menyalahgunakan kekuasaan itu, sehingga membenarkan alasan laki-laki harus memerintah sekarang. Kesimpulannya adalah bahwa zaman matriarkal merupakan mitos yang diciptakan oleh laki-laki, yang mencerminkan kecemasan terhadap otonomi perempuan, bukan ingatan historis. Hal ini menggemakan penafsiran fungsionalis sebelumnya: alih-alih menjadi bukti tentang masa lampau yang benar-benar ada, mitos tentang pemerintahan perempuan melayani tujuan sosial masa kini (sering kali dengan memperkuat patriarki melalui gambaran tentang kekacauan ketika “perempuan memegang kendali”).
Pada akhir abad ke-20, konsensus ilmiah—di kalangan arkeolog, antropolog, dan sejarawan—secara meyakinkan menyatakan bahwa tidak ada masyarakat yang diketahui dalam sejarah manusia yang merupakan matriarki dalam pengertian ketat, yakni perempuan menjalankan kewenangan politik atas laki-laki sebagai aturan umum. Banyak masyarakat egaliter atau matrilineal memang ada, tetapi mereka bukan kebudayaan “yang diperintah perempuan” sebagai cerminan terbalik dari kebudayaan lain. Sebagaimana dicatat secara ringkas oleh ensiklopedia Wikigender, istilah matriarki itu sendiri menjadi problematis, dan sebagian besar akademisi memandang model berurutan Bachofen sebagai “tidak dapat dipertahankan secara ilmiah.” Bahkan para pendukung teori tentang perempuan pada masa prasejarah, seperti Gimbutas, menghindari kata matriarki karena implikasinya terhadap dominasi perempuan, dan memilih istilah yang lebih bernuansa (misalnya “matrifokal”, “ginosentris”, dan sebagainya). Meskipun demikian, di luar dunia akademik, visi tentang firdaus matriarkal yang telah hilang telah memasuki imajinasi populer dan kesadaran feminis. Visi tersebut memicu perdebatan yang bernilai mengenai peran perempuan dalam evolusi dan sejarah, meskipun tidak adanya bukti konkret untuk suatu “Zaman Ibu”.
Memusatkan Kembali Perhatian pada Bukti: Antropologi, Biologi, dan Bahasa#
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, para peneliti dari berbagai bidang telah mengarahkan pembahasan pada apa yang dapat disampaikan oleh catatan empiris mengenai kontribusi perempuan terhadap kisah manusia. Alih-alih bertanya, “apakah matriarki pernah ada?”, para sarjana menyelidiki bagaimana individu perempuan dan kegiatan yang dipimpin perempuan mungkin menjadi sangat penting dalam evolusi manusia dan perkembangan kebudayaan. Pendekatan ini mengalihkan perhatian dari ekstrem-ekstrem ideologis menuju pemahaman yang lebih berbasis bukti, dan sering kali lebih bernuansa—pemahaman yang mengakui perempuan sebagai agen aktif dalam prasejarah tanpa klaim besar mengenai pemerintahan perempuan.
Primatologi telah memberikan konteks yang mencerahkan (sekaligus merendahkan hati) melalui pengkajian terhadap kerabat kita sesama kera. Selama sebagian besar abad ke-20, model-model evolusi manusia didasarkan pada pengamatan terhadap simpanse umum—masyarakat patriarkal yang agresif dan terikat oleh ikatan antarjantan, tempat jantan mendominasi dan bahkan melakukan kekerasan terhadap betina. Hal ini memperkuat asumsi bahwa keadaan “alami” hominid adalah dominasi jantan dan bahwa manusia awal hidup dalam kelompok laki-laki-sebagai-pemburu. Namun, penemuan dan kajian terhadap bonobo (Pan paniscus) secara radikal menantang pandangan ini. Sejak 1990-an, primatolog Amy Parish dan para peneliti lainnya menyoroti bahwa bonobo berpusat pada betina: “Bonobo didominasi oleh betina, dengan menggunakan kontak seksual antara jantan dan betina sebagai semacam perekat sosial. Dan yang terpenting, betina membentuk ikatan kuat bahkan dengan betina lain yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka.” Dalam kelompok bonobo, jantan lebih sedikit melakukan kekerasan dan sering menempati peringkat paling rendah, sementara betina tua berperingkat tinggi beserta aliansi mereka menjaga perdamaian. Penemuan ini—“sebuah kesimpulan yang mencengangkan” bahwa simpanse dan bonobo, meskipun keduanya sama-sama dekat secara genetik dengan kita, memiliki struktur sosial yang berlawanan—memaksa para ilmuwan memikirkan kembali keniscayaan patriarki dalam garis keturunan kita. Sebagaimana dicatat oleh penulis sains Angela Saini, bonobo menunjukkan bahwa model matriarkal ada di alam, sehingga memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang leluhur manusia: Mungkinkah masyarakat hominin awal kita kurang didominasi laki-laki dibandingkan masyarakat simpanse? Mungkinkah jaringan kerja sama antarperempuan merupakan kunci? Meskipun manusia bukan bonobo, wawasan ini membuka pikiran terhadap keberagaman. Wawasan ini juga memberikan kredibilitas pada hipotesis-hipotesis (seperti yang dikemukakan Chris Knight dan dibahas di bawah) yang menekankan koalisi dan seksualitas perempuan dalam evolusi manusia, serta menyediakan semacam analogi alami tentang bagaimana kepemimpinan perempuan dapat berfungsi dalam kelompok primata.
Biologi evolusioner dan paleoantropologi juga mulai mengakui peran perempuan pada masa lampau yang sangat jauh. Salah satu gagasan berpengaruh adalah “hipotesis nenek”, yang diajukan oleh Kristen Hawkes dan para peneliti lainnya. Hipotesis ini menyatakan bahwa umur panjang manusia (khususnya menopause dan rentang hidup panjang pascareproduktif pada perempuan) berevolusi karena para nenek memberikan kontribusi penting bagi kelangsungan hidup cucu-cucu mereka. Menurut hipotesis ini, dalam komunitas Homo sapiens awal, perempuan yang lebih tua dan tidak lagi dapat melahirkan akan membantu menyediakan makanan serta merawat cucu-cucu mereka, sehingga memungkinkan anak perempuan mereka melahirkan bayi berikutnya lebih cepat. Praktik pengasuhan oleh nenek ini akan meningkatkan keberhasilan reproduktif kelompok secara keseluruhan. Hal ini menyiratkan bahwa kehadiran perempuan yang suportif dan berpengetahuan merupakan kekuatan pendorong dalam evolusi sejarah hidup manusia—pada dasarnya, “kondisi” manusia berupa keluarga multigenerasi dan pengasuhan anak secara kooperatif berutang kepada para nenek prasejarah. Berbagai penelitian mutakhir memang menemukan manfaat evolusioner dari hidup berdekatan dengan nenek (misalnya, penurunan angka kematian anak). Temuan-temuan semacam ini menggeser narasi: alih-alih laki-laki-sebagai-pemburu sebagai pahlawan evolusi, kita memiliki perempuan-sebagai-pengasuh-aloparental (ibu bersama atau nenek) sebagai pahlawan yang tak terakui, yang memastikan keberhasilan spesies kita.
Tema pembiakan kooperatif—bahwa manusia adalah “kera pengasuh” yang mengandalkan banyak pembantu untuk membesarkan setiap anak—telah diperjuangkan oleh antropolog Sarah Blaffer Hrdy. Hrdy berpendapat bahwa ibu manusia awal tidak mungkin menyapih dan membesarkan keturunan dengan otak besar serta masa kanak-kanak yang panjang seorang diri; mereka memerlukan bantuan dari kerabat (termasuk nenek dan anak-anak yang lebih tua). Hal ini mendorong tingkat empati, komunikasi, dan kecerdasan sosial yang belum pernah ada sebelumnya di kalangan leluhur kita. Menariknya, alur penalaran ini kembali pada asal-usul kebudayaan: jika bayi manusia lahir dalam keadaan membutuhkan dan bersifat sosial, dan jika para ibu merekrut bantuan, maka dasar kerja sama sosial dan barangkali bahasa itu sendiri mungkin berakar pada interaksi antara ibu dan anak (serta antara ibu dan kerabat). Memang, sarjana mutakhir Sverker Johansson, dengan bertolak dari karya Hrdy, mengemukakan bahwa evolusi bahasa mungkin sangat bergantung pada kerja sama antarperempuan. Ia mencatat bahwa teori-teori yang berfokus pada persaingan kawin antarjantan tidak sesuai dengan bukti: “Satu hipotesis umum, bahwa bahasa berevolusi melalui seleksi seksual—laki-laki bersaing untuk mendapatkan perhatian perempuan—dapat disingkirkan. Perempuan dan laki-laki berbicara sama baiknya. Dan itu berarti bahwa penjelasan tentang bahasa harus netral-gender atau setidaknya mendekatinya.” Sebaliknya, Johansson mengemukakan bahwa bahasa muncul untuk memfasilitasi kerja sama seluruh kelompok dalam pengasuhan anak dan tugas-tugas sosial lainnya. Ia memperkenalkan apa yang disebutnya “uji simpanse”: setiap teori tentang asal-usul bahasa harus menjelaskan mengapa primata lain (seperti babun atau simpanse), yang juga hidup berkelompok, tidak berevolusi memiliki bahasa. Jawabannya adalah bahwa manusia awal berada dalam situasi yang unik—mungkin berkaitan dengan sulitnya persalinan dan kebutuhan akan bantuan persalinan. Ia menunjukkan fakta bahwa bayi manusia, akibat bipedalisme dan otak yang besar, sering kali memerlukan bantuan saat lahir, dan bayi yang baru lahir berada dalam keadaan tidak berdaya. Dengan demikian, para penolong persalinan dan nenek ternyata menjadi tokoh kunci dalam skenarionya. Menurut pandangan Johansson, bahasa mungkin mula-mula berkembang di antara perempuan (ibu dan pengasuh lainnya) sebagai sistem komunikasi untuk saling membantu (“Dorong sekarang!” “Bawakan air!” atau untuk menenangkan bayi). Selama banyak generasi, vokalisasi maternal ini dapat menjadi lebih rumit dan digunakan bersama oleh seluruh komunitas. Hal ini sangat selaras dengan “hipotesis bahasa ibu” yang sebelumnya diajukan oleh antropolog Dean Falk, yang mengusulkan bahwa kata-kata pertama itu sendiri muncul dari “bahasa bayi” antara ibu dan bayi. Menurut Falk, ketika para ibu hominin awal harus meletakkan bayi mereka untuk mencari makanan, mereka meyakinkan dan menenangkan bayi tersebut dengan vokalisasi melodis (pendahulu nina bobo atau tuturan yang menenangkan). Bunyi-bunyi emosional ini—pada dasarnya bentuk kuno motherese—secara bertahap memperoleh makna dan struktur, sehingga meletakkan dasar bagi bahasa sejati. Seiring waktu, apa yang bermula sebagai komunikasi antara ibu dan anak meluas kepada keluarga serta kelompok yang lebih besar, dan menjadi bahasa yang sepenuhnya berkembang serta digunakan bersama oleh semua orang.
Hipotesis-hipotesis semacam ini menegaskan bahwa aktivitas sosial dan pengasuhan perempuan mungkin merupakan faktor pendorong dalam evolusi kebudayaan simbolik manusia. Hipotesis-hipotesis tersebut berlandaskan biologi evolusioner yang realistis, bukan mitos romantis, tetapi tetap mengangkat pentingnya perempuan dalam kisah tentang “apa yang menjadikan kita manusia.”
Bidang lain yang menarik perhatian adalah inovasi dan teknologi: secara arkeologis, beberapa penemuan budaya paling awal kemungkinan berasal dari perempuan. Misalnya, penemuan wadah (keranjang anyaman, tembikar) sering dikaitkan dengan para perajin-pengumpul, yang kemungkinan besar adalah perempuan dalam banyak konteks Paleolitik dan Mesolitik. Perkembangan pertanian pada zaman Neolitik secara luas dianggap diawali oleh para pengumpul perempuan yang bereksperimen dengan menanam benih. Domestikasi hewan mungkin juga sebagian berutang kepada perempuan yang menangani hewan buruan kecil atau merawat hewan-hewan yatim. Meskipun bukti langsung masih langka, hal ini selaras dengan pengamatan Schmidt bahwa “perempuan terlibat dalam pengolahan tanaman paling awal” dan bahwa hal ini meningkatkan pentingnya mereka secara sosial, yang mungkin melahirkan pemujaan terhadap dewi dalam komunitas pertanian awal. Bahkan pengendalian api dan penemuan kegiatan memasak—tonggak penting dalam kebudayaan manusia—sebagian dapat dikaitkan dengan upaya perempuan: “hipotesis memasak” dari primatolog Richard Wrangham berpendapat bahwa penguasaan api untuk memasak makanan sangat menentukan bagi evolusi manusia, dan dalam banyak masyarakat pencari makanan, perempuan merupakan penjaga utama perapian serta pengetahuan tentang bahan pangan nabati. Meskipun kita tidak dapat mengetahui jenis kelamin siapa yang pertama kali merebus air atau memanggang ubi, masuk akal untuk menganggap bahwa para ahli gizi perempuan memainkan peran yang sama besarnya dengan para pemburu laki-laki dalam kuliner prasejarah.
Salah satu teori modern yang secara eksplisit menempatkan perempuan di pusat kelahiran kebudayaan adalah karya provokatif Chris Knight. Dalam Blood Relations: Menstruation and the Origins of Culture (1991), Knight menyintesiskan antropologi, biologi evolusioner, dan mitologi untuk berpendapat bahwa kebudayaan simbolik manusia pertama diciptakan oleh solidaritas perempuan. Dengan bertolak dari gagasan tentang “mogok seks”, Knight mengusulkan bahwa perempuan manusia awal menyelaraskan ovulasi dan menstruasi mereka (mungkin dengan menggunakan siklus lunar sebagai penunjuk waktu) dan secara kolektif menahan akses seksual dari laki-laki pada waktu-waktu tertentu, untuk memaksa laki-laki bekerja sama dalam berburu dan berbagi daging. Menurut hipotesis Knight, hal ini melahirkan ritual dan tabu pertama—misalnya, tabu menstruasi, tubuh yang dicat merah sebagai simbol darah, serta pembagian waktu secara ritual menjadi fase “perempuan” (terlarang) dan “laki-laki” (terbuka). Ia membayangkan bahwa selama Paleolitik Atas (sekitar 40.000 tahun yang lalu), dinamika mogok dan perayaan yang dipimpin perempuan ini mendorong apa yang disebut “revolusi simbolik”, yang diidentifikasi oleh banyak arkeolog (kemunculan seni, perhiasan pribadi, tata cara penguburan yang rumit, dan sebagainya). Dalam skenario Knight, tindakan kolektif perempuan membentuk kontrak sosial: para pemburu pulang membawa daging, yang dibagikan dalam pesta pascamenstruasi, sehingga mengukuhkan tingkat aliansi baru antara kedua jenis kelamin, tetapi berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan perempuan. Sebagaimana dirangkum dalam salah satu uraian, Knight berpendapat bahwa “perempuan, melalui seks dan ritme menstruasi, memelihara dorongan kreatif purba peradaban dan pada dasarnya menciptakan kebudayaan manusia.” Bukti yang dihimpun Knight terbentang dari kesamaan-kesamaan mitos penciptaan (ia menganalisis, misalnya, mitos saudari Wawilak Aborigin sebagai alegori sinkroni menstruasi dan asal-usul ritual) hingga perilaku para pemburu-pengumpul dan primata. Meskipun banyak antropolog menganggap teori Knight spekulatif, teori tersebut merupakan upaya serius untuk menjawab bagaimana seekor kera biologis menjadi manusia budaya—dan hal itu dilakukannya dengan menempatkan kelompok perempuan yang bekerja sama pada titik genting transisi tersebut, menciptakan aturan dan simbol yang memungkinkan masyarakat.
Dalam kaitan lain, kajian etnografis dan sosiologis terhadap masyarakat yang masih ada terkadang mengungkap peran perempuan yang kuat, yang mungkin mencerminkan pola-pola leluhur. Antropolog Peggy Reeves Sanday, dalam survei lintas budayanya Female Power and Male Dominance (1981), mengidentifikasi beberapa masyarakat—dari Minangkabau di Sumatra Barat hingga kelompok-kelompok tertentu penduduk asli Amerika—di mana perempuan memiliki kendali yang besar atas harta benda, pewarisan, dan ritual, meskipun mereka tidak secara formal memerintah laki-laki. Sanday menggunakan istilah “matriarki” dengan hati-hati untuk menggambarkan kasus-kasus semacam itu, dengan mendefinisikannya bukan sebagai cerminan patriarki, melainkan sebagai suatu tatanan di mana kepentingan perempuan berlaku dalam urusan sosial. Ia menyimpulkan bahwa meskipun tidak ada masyarakat yang diketahui benar-benar matriarkal, terdapat suatu spektrum status perempuan, dan beberapa kebudayaan memang dapat disebut ginosentris. Contoh-contoh kontemporer seperti Mosuo di Tiongkok (dengan rumah tangga matrilineal dan perkawinan berjalan mereka) atau mitos Kabyle tentang orang-orang suci perempuan di Aljazair menunjukkan bahwa organisasi sosial yang berpusat pada perempuan bukanlah fantasi belaka—meskipun dalam setiap kasus laki-laki masih memegang sejumlah kekuasaan politik atau fisik, sehingga mencegah pembalikan patriarki yang sejati.
Yang terpenting, konsensus ilmiah dewasa ini tidak mendukung gagasan tentang peradaban matriarkal masa lalu dalam pengertian harfiah. Hal yang didukungnya adalah pandangan bahwa perempuan selalu menjadi bagian integral dari kisah manusia—sebagai pengumpul dan inovator, sebagai pembawa kebudayaan dan bahasa, serta sebagai mitra setara (jika bukan pemimpin) dalam transformasi sosial yang penting. Sebagaimana dicatat secara ringkas oleh Encyclopedia Britannica, “belum ditemukan bukti antropologis tentang suatu masyarakat di mana perempuan, sebagai kelompok, memerintah laki-laki sebagai kelompok.” Namun, terdapat banyak bukti tentang masyarakat awal dengan kekerabatan matrilineal serta peran keagamaan atau ekonomi yang penting bagi perempuan, dan teori evolusi semakin mengakui agensi perempuan (melalui pemilihan pasangan, pengasuhan, dan kerja sama) sebagai penggerak evolusi manusia. Singkatnya, hipotesis “ibu kebudayaan” dalam bentuknya yang kuat masih belum terbukti, tetapi dalam bentuknya yang lebih lemah—bahwa para ibu dan nenek, perempuan bijaksana dan dewi, selalu berada di dasar segala sesuatu yang menjadikan kita manusia—hipotesis itu memperoleh dukungan yang cukup besar.
Kesimpulan#
Gagasan bahwa perempuan merupakan pencetus kondisi manusia dan pendiri kebudayaan telah menempuh perjalanan yang kompleks dari mitos menuju spekulasi, lalu menuju analisis ilmiah. Gagasan itu bermula di ranah kisah-kisah sakral: cerita tentang dewi dan perempuan pertama yang melahirkan dunia, menganugerahkan hukum, dan mengajarkan kesenian. Pada abad ke-19, para sarjana seperti Bachofen mengubah kisah-kisah tersebut menjadi suatu teori besar tentang sejarah, dengan membayangkan suatu zaman nyata ketika pengaruh perempuan berada pada puncaknya dan kebudayaan manusia lahir dari hak-ibu. Tesis yang berani ini memikat banyak orang—Morgan, Engels, dan lainnya—yang memadukannya dengan pengetahuan yang sedang berkembang untuk menyatakan bahwa masyarakat awal berpusat pada perempuan hingga kepemilikan pribadi atau dewa-dewa baru mengubah keseimbangannya. Seiring berjalannya waktu, baik bukti maupun angin ideologis mengalami perubahan. Para antropolog mengumpulkan data yang membantah matriarki universal yang sederhana, tetapi daya tarik konsep tersebut tetap bertahan, dibentuk ulang oleh keprihatinan setiap zaman: para pembela patriarki pada era Victoria menolaknya; rezim-rezim totaliter mengambil alih atau memelintirnya; gerakan-gerakan feminis menciptakannya kembali sebagai mitos yang memberdayakan; dan para antropolog mengkajinya kembali melalui sudut pandang perilaku primata, fosil, dan kajian kekerabatan.
Yang muncul dari sejarah ini adalah penghargaan yang lebih kaya terhadap peran perempuan dalam evolusi manusia, yang tidak memerlukan kerajaan matriarkal dalam pengertian harfiah. Perempuan sebagai pencipta—tentu saja pencipta kehidupan, tetapi juga pencipta strategi subsistensi, bahasa penghiburan, jaringan berbagi, dan makna sakral—selalu menjadi pusat bagi spesies kita. Seiring pendalaman pemahaman kita, kita menemukan bahwa pertanyaannya bukanlah apakah perempuan merupakan pencetus aspek-aspek kebudayaan, melainkan bagaimana dan dalam hal-hal apa. Penelitian modern menunjukkan bahwa perkembangan seperti masa kanak-kanak yang panjang (dan dengan demikian pendidikan), pengasuhan kooperatif, serta komunikasi mungkin sama bergantungnya pada kromosom X maupun kromosom Y. “Perempuan pertama” dalam mitos mungkin tidak memerintah seorang diri, tetapi ia dan padanan nyatanya di antara Homo awal memang turut membentuk kisah manusia—bukan dalam suatu matriarki emas yang lenyap tanpa jejak, melainkan melalui kerja yang terus berlangsung dan tak tergantikan dalam merawat setiap generasi baru serta mempertahankan ikatan-ikatan yang memungkinkan kebudayaan.
Tanya Jawab#
T 1. Apa hipotesis “matriarki primordial”?
J. Hipotesis ini adalah teori yang dipopulerkan oleh J.J. Bachofen pada 1861 dan oleh para pemikir sesudahnya, yang menyatakan bahwa masyarakat manusia awal secara universal melewati suatu tahap ketika perempuan memegang kekuasaan sosial, politik, atau spiritual yang dominan (“Hak-Ibu”), yang sering dikaitkan dengan keturunan matrilineal dan pemujaan dewi, sebelum kemudian digantikan oleh patriarki.
T 2. Apakah terdapat bukti ilmiah tentang masyarakat matriarkal kuno?
J. Tidak. Meskipun banyak mitos menampilkan tokoh-tokoh perempuan yang berkuasa dan beberapa masyarakat bersifat matrilineal atau matrifokal, konsensus keilmuan di antara para antropolog dan arkeolog menyatakan bahwa tidak ada bukti yang mengonfirmasi adanya zaman masa lalu ketika perempuan secara sistematis memerintah laki-laki sebagai suatu kelompok. Konsep ini kini lebih dipandang sebagai teori sejarah atau bahkan sebagai mitos itu sendiri.
T 3. Jika matriarki tidak nyata, bagaimana para sarjana dewasa ini memandang peran perempuan dalam asal-usul kebudayaan?
J. Penelitian kini berfokus pada kontribusi-kontribusi khusus yang berbasis bukti: “hipotesis nenek” (umur panjang perempuan yang membantu kelangsungan hidup keturunan), kemungkinan peran perempuan dalam penemuan pertanian atau teknologi awal (tembikar, tenun), pentingnya komunikasi ibu-bayi dalam asal-usul bahasa (hipotesis motherese), serta strategi sosial perempuan yang ditunjukkan oleh primatologi (misalnya, kajian tentang bonobo). Perempuan dipandang sebagai agen sentral dalam evolusi dan kebudayaan, tetapi tidak mesti sebagai penguasa dunia matriarkal yang telah hilang.
Sumber#
- Wawilak Sisters (Dreamtime) – Yolngu creation myth
- Changing Woman – Navajo origin myth
- Amaterasu – Japanese sun goddess & imperial ancestress
Klasik “matriarchy debate”#
- Johann Jakob Bachofen, Das Mutterrecht (1861)
- Encyclopedia overview of Bachofen & later reception
- Lewis Henry Morgan, Ancient Society (1877)
- Friedrich Engels, The Origin of the Family, Private Property and the State (1884)
- Sir Henry S. Maine, Ancient Law (1861)
- John F. McLennan, Studies in Ancient History (1886)
- Edvard Westermarck, The History of Human Marriage (1891)
- Jane Ellen Harrison, Prolegomena to the Study of Greek Religion (1903)
- Jane Ellen Harrison, Themis (1912)
- Robert Briffault, The Mothers (1931)
- Bronisław Malinowski, Sex and Repression in Savage Society (1927)
- Wilhelm Schmidt, The Origin and Spread of the World Cultures (1930)
- A. R. Radcliffe-Brown, “The Mother’s Brother in South Africa” (1924)
- E. E. Evans-Pritchard, “Some Remarks on the Early History of Kingship” (1930)
- Alfred Baeumler & Alfred Rosenberg – Nazi-era Bachofen reception (overview)
- Cynthia Eller, The Myth of Matriarchal Prehistory (2000)
- Marija Gimbutas, The Goddesses and Gods of Old Europe (1974)
- Elizabeth Gould Davis, The First Sex (1971)
- Merlin Stone, When God Was a Woman (1976)
- Peggy Reeves Sanday, Female Power and Male Dominance (1981)
- Simone de Beauvoir, The Second Sex (1949) – critique of matriarchy myths
- Joan Bamberger, “The Myth of Matriarchy: Why Men Rule in Primitive Society” (1974)
Primatologi, pengasuhan anak & sudut pandang evolusi bahasa#
- Amy Parish, “Female Relationships in Bonobos (Pan paniscus)” (1996)
- Kristen Hawkes et al., “Grandmothering, Menopause, and the Evolution of Human Life Histories” (1997) PNAS
- Sarah Blaffer Hrdy, Mothers and Others (2009)
- Sverker Johansson, The Dawn of Language (2021)
- Dean Falk, “Prelinguistic Evolution in Early Hominins: Whence Motherese?” (2004)
